Langsung ke konten utama

Belum ada Judul


Akulah yang benar-benar gugur rupanya
Rentetan darah ini mungkin hanya menjadi tuang dari pilu

Tanda yang sulit disuguhkan kepadanya
Sebagai mentari yang selalu menyinari saja
: Aku tak sanggup

Ataukah menjadi kanopi yang selalu melindungi
Dari matari
: Aku lebih tak sanggup

Sekian waktu ku sela hari-hariku agar tetap berjalan
Hanya ingin mengikuti arah bayanganmu
Namun
: Aku tak sanggup juga

Mungkin aku bukan hanya siapa-siapa bagimu,
Aku hanya pengundung rasa bahagia untukmu

Itu  aku sanggup.


R.H.S

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memoar ke-3

: pasti berlalu Kau adalah yang pertama membuatku jatuh Dalam dekapan yang amat erat Sewaktu itu. Dan kau adalah yang pertama membuatku gemetar Dalam dinginnya malam Sekujur tubuhku kaku. Bekasi, 26 April 2015 R.H.S

Penantian

Penantian Menunggu namamu yang mungil segera menjemputku. Ketika sebuah akibat muncul dikarenakan kau ada dan kemudian tiada. Hari esok dengan gamblangnya menganugerahkanku pada sepenggal lantunan yang kau bawa mati.  Dahulu. Masih kukecup datar kulitmu yang langsat. Kencang. Membuatku tergoda. Pagi. Dengan izin semesta, aku akan selalu menunggumu. R.H.S

Kedua Tangan

Tanganku menelungkup di dada yang selalu saja mengiba untuk diperhatikan, sampai akhirnya aku dan kamu saling menghapus jarak dari pertemuan singkat itu, yang mendorong huruf terpisah dari kata, meninggalkan jejak diantara larik dan bait. Aku pun menerima sebuah kotak suci dari perbendaharaan kata Ilahi, ditulis singkat dengan tema buatanmu sendiri. Kurasa kertas dengan motif batik, sangat cocok untukku. Begitupun dengan kotak suci lipatanmu. : kuberikan dua telapak tangan yang terus melambai ke arahmu R.H.S