Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember 8, 2021

Seperti Bunga Kerangka yang Kau Kasihi Itu, Aromanya Tak Pernah Ditanam

  Seperti bunga kerangka yang kau cintai Tak lebih seperempat menit kau dengarkan celotehan ku Lalu kau tidur Seperti bunga kerangka yang sedari dulu kau banggakan Aku bersimpuh di tangkainya yang rapuh itu Lalu kau melamun Seperti bunga kerangka yang kau kasihi itu Aromanya tak pernah ditanam Parasnya sulit kubentuk Lalu kau pergi, Dan tak mau menunggu Jakarta, 14 Desember 2018

Apa Iya Orang Bisa Berubah Secepat Itu?

Waktu yang singkat saat melihatmu hari ini. Tak biasanya aku menepuk hatiku. Sambil ku pegang ingatan tentang kata-katamu yang telah mendebu. Sejenak aku tak mengalihkan pandanganku terhadapmu. Aku dalam beberapa menit tak beranjak dari tempat ku duduk. Sambil memegang air mineral. Aku berupaya menahan rasa gemetarku yang menjadi-jadi. Selang beberapa waktu, aku mulai terbiasa dengan gemetar. Sambil dengan lugunya aku memanggilmu. Sekali kau tak meresponsku, dua kali. Kurasa aku harus menyambangimu. Aku sapa dan kau telah berubah wajah. Apa iya ini ilusi optik. Atau mungkin wajahmu secepat itu tak bisa kukenali lagi. Ah, mungkin aku salah orang. Aku masih tak percaya. Apa iya orang bisa berubah secepat itu? Jakarta, 17 Desember 2018

Sewaktu Kecil Aku Sudah Mengagumimu

Pagi-pagi sekali aku telah sibuk mengingatmu Mencoba mengalihkan pandangan ke arah lapang Menemukan pohon dan ranting yang baru saja terbangun Disusul banyak buah-buahan yang jatuh karena sudah masak Aku ingat betul waktu kita kecil Puluhan burung hinggap di ranting pohon tusam depan rumahku Kau coba menangkapnya Aku sempat memperhatikanmu Apalagi ketika kau mampu menangkap dua dari puluhan estrildidae Mataku tak bisa mengalihkan pandangannya kepadamu Sewaktu kecil aku sudah mengagumimu Sebab, sejak itu pula aku diajarkan untuk mensyukuri apapun Baik itu hal-hal yang hanya mampu ku lakukan dari balik jendela Atau mungkin kuperjuangkan sendiri Sejak kecil aku suka membaca pikiran sesiapa yang kulihat Dan kusapa Walaupun tak selalu kuingat seperti dirimu Jakarta, 19 Desember 2018

Kau Tak Menemukan Hatimu Lagi

  Tak ada lagi yang bisa kau harapkan  Selain menata kembali kewarasanmu yang sudah tertutup dengan insiden malam itu Kebijakan seseorang yang kau kira akan menenangkan hatimu Rajutan dan sulamannya Membuat matamu selalu berbinar Dan mengikuti arah geraknya Instruksi yang kau anggap akan mengubah kewarasan Tak lagi mencerminkan dirimu dahulu Semua hanya menjadi imaji dalam langkahmu yang sedang lunglai Tertatih Perlahan tergontai-gontai, lalu dengan mudahnya terperosok Ke dalam palung dadamu sendiri Kau tak menemukan hatimu lagi Sebab di malam itu, dia telah menghilangkan lusinan rasa terhadapku  yang pernah kau pupuk di dalam rongga dadamu Hatimu telah menjadi tanaman langka.  Tak merambat atau berkecambah.  Tidak pula dapat dirasakan oleh indera manapun. Jakarta, 22 Desember 2018

Kau di Sebuah Semenjana

  Kau di sebuah semenjana Memunculkan serpihan sajak yang tersembunyi Tidak kau tuliskan dalam tutur yang manis Tenang, tak bergelombang Kau di sebuah semenjana Terasa seperti resep yang ibu hidangkan untukku Biasa, namun tak akan bisa tergantikan rasanya Kala berdua dan bercerita Kau di sebuah semenjana Tidak sedikitpun mengekangku Padahal guru-guru selalu mengawasiku Menceramahiku bahkan menuntutku Semenjana, kau selalu seperti itu Tak merespons sesiapa Hanya bertindak adil untuk siapapun Terlalu peduli pada banyak orang Meski selalu diremehkan Jakarta, 23 Desember 2018

Hari-Hari ini Aku Membutuhkanmu

  Hanya dirimu Tempat paling nyaman untukku mengingat Padang dari dua atau tiga tahun lalu yang kelabu Waktu di saat aku mulai mengganti rajutan berpikirku Hanya dirimu Tempat ku menangis dan menjelaskan banyak benang yang semakin ruwet, bahkan putus Walau telah ku simpan berpintal-pintal Habis dalam waktu sekejap Hari-hari ini aku membutuhkanmu Sebagai penanggungjawab rajutan itu Memastikan tak ada benang yang habis Tak ada cinta yang tiada dalam setiap rajutannya Hari-hari ke depan aku terus mencarimu Menanyakan tentang pakaian mana yang pas untukku Berdasar apa yang menjadi pintamu saat merajut pakaian itu Utamanya tentang diriku ini Bersamamu. Jakarta, 25 Desember 2018

Keraguan Macam Apa Ini

  Mengapa aku sekarang meragu? Padahal sudah sekian kali aku melewati kejadian ini Semua hal tentang imaji  yang tak pernah sampai sejengkal pada ekspektasiku Kau selalu mendahuluiku Mengapa aku sekarang meragu? Sebab sehasta saja tak pernah ku mampu mengejarmu Telapak tanganku terus meraihmu  dengan badanku yang telah tersungkur di tanah Wajahku menghadap kepada bumi ini Mengapa aku sekarang meragu? Ketika bayangmu telah sampai di pelupuk mataku Bahkan seraya aku merapal doa-doa Aku masih tak kunjung jua menggapaimu Sebenarnya keraguan macam apa ini. Jakarta, 26 Desember 2018

Apa Ini Momen Terindah?

Apakah bertemu denganmu disebut sebuah momen termanis kita? Apabila tertawamu saja sudah direncanakan Pertukaran cerita selama seminggu lalu pun hanya transaksional Pulang ke rumah masing-masing seperti robot tak berperasaan dengan lupa yang semakin kronis Lalu, bagaimana bisa hal itu disebut momen terindah kita? Apabila saat turun kendaraan kamu memasang wajah lugu dan langsung berjalan terburu-buru Seakan ada yang sedang menunggu Melebihi pertemuanmu denganku Pengorbanan dan perjuangan itu hal yang mudah dikatakan, sulit dilakukan.  Mudah dinilai, minim penghargaan. Jakarta, 28 Desember 2018

Kupikir Kau akan Tetap Sehat

  Sebaik-baiknya aku adalah yang mendoakanmu  Seburuk bagaimanapun perlakuanmu padaku Sebenci apapun dirimu terhadapku Aku selalu menggunakan kedua tanganku  dengan mendoakanmu Di pagi menjelang siang Pada sore menjelang malam Waktu itu di persimpangan jalan Tempat lampu-lampu gemerlap dan suara bising kendaraan Meski tak menemukanmu, Aku menemukan harapan dari banyaknya jalan  yang kulewati dan kupilih sendiri Kupikir kau akan tetap sehat.  Walau tak melulu aku di sisimu.  Meski kabar hanya datang saat harapan sudah hilang. Jakarta, 31 Desember 2018

Kau yang Membantu Mendorongnya

Tak bisakah kau mengingat apa yang terjadi pada vespa-ku waktu itu Tentang ucapan-ucapan manis yang mendalam Kau membantu mendorongnya Sambil mengatakan aku akan menemanimu Aku pula yang akan mengantarmu sampai ke bengkel terdekat Tenang saja, sayang. Namun, tetiba kau berjalan dengan lambat dan semakin lambat Kau tak lagi sanggup menggapai jalan yang berat bersama vespa-ku Aku pun tak tega memberatkanmu agar terus mendorong kendaraanku ini Kendaraan yang mungkin banyak orang katakan telah usang Lalu, aku berjalan maju. Bukan untuk meninggalkanmu. Aku bergerak sesuai apa yang aku butuhkan.  Bukan tentang apa saja yang kau inginkan. Sejak awal aku tak pernah memintamu untuk mendorong vespa-ku. Tetapi, kau yang memaksa masuk ke dalam duniaku. Menikmati harumku, atau mungkin paksaan-paksaan yang melebihi kemampuanmu. Sejak itu aku mengkhawatirkan keadaanmu  Teramat khawatir. Sudah sampai mana kau mengingatnya? Jakarta, 5 Januari 2019

Laut Masih Memberikan Aku Kesempatan untuk Mengejarmu

Aku telah mencacah banyak waktu denganmu Hingga tak banyak yang tersisa untuk bibir ini bisa terucap Tiap detik hanya cerca yang kudapat Menit demi menit serasa tak berkesudahan. Baiknya aku menahanmu terlebih dahulu Dari deru gelombang yang tak kuketahui kapan datangnya Bagaimana dan apa Semakin tenang aku, makin ku tak mengetahui maksud dari gelombang lautan yang aku ketahui hanya kau bergerak ke arah berbeda Dengan kapalmu itu Aku layaknya sebuah sekoci atau perahu kayu yang dilepas di tengah laut Dan dengan mudahnya kau memalingkan wajahmu Meninggalkanku tanpa pamit Padahal perahuku tak memiliki dayung dan layar seperti perahumu Di dalamnya hanya berisi makanan kaleng dan beberapa kayu yang sudah lapuk Lalu bagaimana aku mengejarmu? Gelombang tinggi bisa saja membalikanku waktu itu menenggelamkan atau bahkan menewaskanku Namun, ternyata saat ini laut tak ingin mengamuk kepadaku Bukan karena aku tak mengecewakannya. Aku rasa bukan itu. Laut masih memberikan aku kesempatan untuk men...

Berkatmu Aku Mulai Bertanya

Berkatmu aku mulai bertanya  Tentang jalan mana lagi yang berkelok Dari sudut pandang yang bagaimana lagi  Aku bisa menyadarkanmu Seumpama pohon disana mulai rapuh Tak diberi nutrisi seperti pohon-pohon lainnya Lalu bagaimana dia bisa tumbuh seperti pohon lainya? Daun dari tubuhnya tak berhenti berguguran Dan bagaimana caranya agar daun-daun itu bisa bersemi kembali? Pohon-pohon disana sejajar dan membentuk barisan Merapikan shaf mereka satu persatu Lalu mengapa engkau ditinggalkan sendiri? Tak berdampingan dengan pohon lainnya Aku tak pernah menganggapmu sebuah aib Begitu pun aku yang berharap kau tak pernah menjauhiku Bogor, 23 Januari 2019 (Dengan hujan yang tak kunjung reda)