Aku yang bertahan dalam kosongmu Ketika dedaunan mulai bergoyang Ranting-ranting mulai gemetar Dan batang tetap pada kekokohannya Akar yang masih membutuhkan tanah tempat memijak Aku yang bertahan dalam sunyimu Layaknya angin yang mengiba setiap hari Tanpa ada jeda dalam detik dan menit Menemani di siang dan malam Pada hujan dan kemarau Aku yang bertahan dalam kenanganmu Tanpa riak suara air terjun Tanpa aliran yang amat deras Aku tetap memilih untuk seperti ini Tetap tenang, gundah, nyeri. Aku yang bertahan dalam tawamu Perhiasan terindah yang aku lihat Adalah kebahagiaan tanpa syarat Tanpa ada yang menjadi lain Dari gurat senyummu itu Aku yang bertahan walau tak ada yang menahan Aku bimbang walau tak sedikitpun engkau bimbang Aku mengeja pada dirimu yang terlalu hafal Aku bertahan. Bertahan. Bekasi, 24 April 2015 R.H.S