Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari 17, 2014

Belum ada Judul

Akulah yang benar-benar gugur rupanya Rentetan darah ini mungkin hanya menjadi tuang dari pilu Tanda yang sulit disuguhkan kepadanya Sebagai mentari yang selalu menyinari saja : Aku tak sanggup Ataukah menjadi kanopi yang selalu melindungi Dari matari : Aku lebih tak sanggup Sekian waktu ku sela hari-hariku agar tetap berjalan Hanya ingin mengikuti arah bayanganmu Namun : Aku tak sanggup juga Mungkin aku bukan hanya siapa-siapa bagimu, Aku hanya pengundung rasa bahagia untukmu Itu  aku sanggup. R.H.S

Sajak untuk Negeri Ibunda

Kami masih banyak diam, Meski seluruh tenaga kami hampir habis. Diperas, dikucilkan. Kata seseorang ini hanya sebuah kritik, Ya, kritik yang berkepanjangan. Tak berkesudahan, atau malah menjatuhkan. Suara layur demi layur menjadi kambing hitam. Hanya bungkaman ideologi tak berkesudahan. Jika kami bukan robot, adakah yang mau menolak? Sebab, sejungkal dada kami kembang kempis. Mencoba berbagai cara Namun nyatanya hanya mimpi di kubangan lumpur Tidak ada kata satu. Yang ada hanya kecemburuan sosial. Kebutuhan lapar yang mendencit-dencit seperti tikus rakus Dan ekonomi yang mati Tak ada sebuah pengakuan. Bahwa kami bagian dari kamu. Lantas untuk apa kami ada, Jika jiwa dan juwa kalian hanya untuk kecemburuan Penghasutan dan pengrusakan moral Menuntut ekonomimu maju. Dan . . . Ya. Kami memang angkuh, Engkau yang menyebabkannya seperti itu. Jika kami diam, maka kami hanya serdadu bodoh. Yang kau suruh, kau hasut. Lalu,...

Merpati Putihmu

Merpati Putihmu Aku yang terpendam oleh teriknya mentari Enggan keluar dari pintu surga Meski merpati-merpatimu telah merayu Di pelataran taman mungilku Aku yang selalu mengumbar senyum pada dunia Masih saja lengah tentang merpatimu yang suci itu Apakah aku mulai tergoda? Hingga fikiranku mengelabu menjelma warna sejati Aku yang mempunyai rasa iba Terlalu kecut untuk mengulangi cerita tentang manusia langit yang diajak Tuhan untuk menapakan kaki di bumi dengan telanjang kaki maupun beralas kaki Sungguh, merpatimu begitu sering mengudara di atas kediamanku Aku takut dengan bulu-bulu halusnya yang bertebaran tepat di rongga atap Mampu menutupi lubang perapian Terkadang rasa kesalku semakin menjadi-jadi Sebab, engkau tak kunjung muncul Hanya bersua dengan nada lirih Lalu, merpatimu datang beriringan menuju kediamanku Senyum, bergerak perlahan lalu terbang Dengan sejuta rasa sabarku, Aku mulai memanipulasi diriku dengan sebutan Andai...