Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli 27, 2014

SAJAK V

SAJAK V Memadu kasih yang sempat timbul tenggelam di dalam hidup kita. Di antara kita memang masih ada bekas-bekas luka dari yang terdahulu. Namun, itu semua tak menyurutkan hati kita untuk mencari yang terbaik di antara yang terbaik. Yang tercinta diantara yang tercinta. Dan saat ini hatiku berlabuh dengan nama insan yang menghamba kepada kesetiaan cinta. Cinta kepada Yang Maha Cinta. Juga cinta kepada sesama manusia. Cinta kepada keluarga. Cinta kepada Dikau. Yang kerap membuat hatiku sekemilau berlian. Sekuat batu karang yang tahan oleh kuatnya gelombang. Padamu yang menjadi sosok terindah untuk selalu ku mengatakannya. Padamu aku menjadi penyemangat buat diriku juga orang di sekitarku. Aku menyukaimu seperti aku menyukai diriku dan hidupku. Aku mencintaimu seperti aku mencintai ciptaan Yang Maha Pencipta. Kuharap engkau tak pernah bosan untuk mengenal insan yang satu ini. Tak pernah dirundung pilu saat bersamaku. Selalu menyibakkan senyuma...

PUISI IV

PUISI IV : pada malam dijadikannya aku seorang pangeran Kabar yang semalam mengajakku, Saat kita melarung kehiruk-pikukkan malam. Kau begitu mengesankan, Sebab aku selalu saja tersenyum memandang wajahmu. Aku ingat saat kaki kita merangkul. Mencari tempat persembunyian. Karena pada malam itu, Langit tak lagi kuat menahan rasa sedihnya. Seketika itu kubawa kau ke tempat teduh. Meski kita telah kuyup dengan sendirinya. Tak habis beberapa igauan, Kita mulai disesalkan oleh roda-roda manusia, Yang terkesan tak mau ambil pusing. Kita diusir. Langkah kita bukanlah pedati-pedati usang, Kuajak kau meneruskan jejak cerita. Agar sembilu-sembilu cinta akan selalu terpatri dalam hati. Antara aku dan dirimu. : pada perjalanan yang setelah ini Suara kita dihentikan oleh isakan tangis yang semakin menjadi-jadi dari langit. Mengurunglah niat kita untuk mendekat istana janji. Sekuyup tubuh dan pikiranku, ku  putuskan untuk mengambil j...

SAJAK III

SAJAK III Melepas mata yang semalam terpancar Pada sejuta celah-celah cahaya Aku masih tak bias melepas mataku Tertuju padamu Saat jemariku mulai menganyam jejaring  cinta yang bersama  kita rajut. Itu adalah kebersamaan. Ya,  kusebut ini cinta bersama. Ada kalanya hal yang seperti itu, diremehkan, dibawahkan dan dijatuhkan. Aku tak pernah anggap itu sepele Memang berbagai cara layak itu tidak begitu mewah. Karena kemewahan hanyalah perhiasan yang tak abadi. Kekinianku mulai merangsek di sebagian tubuhmu. Entah di bagian mana dan lewat mana. Entah pada kesadaran yang bagaimana dan tingkat berapa. Aku tahu bahwa lukisan dunia Masih belum seindah perjalanan kaki-kaki kita. Senang menopang dan membata salah satunya. Indah. : Agar nantinya selalu indah R.H.S

PUISI II

PUISI II Aku mendengar bunyi Sajak yang bernada Dari setiap not-not kehidupan Nadanya tinggi rendah Nikmati saja Sudah lama aku mendambakan suara merdu itu dengan iringan burung yang bergerombol di pinggir selokan yang tak lagi mengalir airnya Aku menikmati hidup ini Masih suara merdu itu, Nadanya sungguh membuat bulu kuduk tersenyum Pohon-pohon palem juga turut bernyanyi sambil berbaris rapi. Sungguh, aku menikmati keadaan ini. Duhai suara nan merdu, Aku tahu lika-liku hidup memang tak pernah ada. Tak pernah tiada. Sebab, sudah jelas terlihat dalam sebuah buku. Rahasia. Aku adalah jalan untuk kau berjalan. Aku adalah lantunan untuk bernyanyi. Bahagia. R.H.S

SAJAK I

SAJAK I Bukan aku ingin banyak bicara. Karena kata ini terlalu sulit untuk terucap sebelumnya. Pada masa yang lalu. Tapi, aku yakin dan pantas untuk kau baca. Entah pagi yang bagaimana yang aku butuhkan. Entah embun yang seembun apa yang aku rasakan. Hanya kau yang aku ingat. Ketika melihat matahari muncul, Begitu ku teringat pada senyum simpul yang kau berikan. Ketika kuayuh kuda besi tadi, Masih membayangkan begitu indah perilakumu Terhadap manusia ini Jika memang barisan pagi, Embun, dan keadaan sekelilingku dapat aku simpul. Maka kudapatkan sejelas-jelasnya sosokmu. Membekas. Bahagia. R.H.S

Sajak Orang yang Mau Mati

Sajak Orang yang Mau Mati Jika wajah bumi bisa pucat pasi, maka tiada yang tak mungkin dengan wajahku. Wajah manusia biasa yang bisa-bisanya mengaku manusia. Tetapi, tidak berlaku manusiawi bahkan terhadap hewan dan sejenis kuskus yang lari di pelataran rumah. Hal ini mungkin akan menjadi momok yang menakutkan untukku. Bisa juga untukmu. Untuk kalian. Aku tahu aku pasti mati. Begitupun nasibmu dan nasib kalian. Namun, bukan mati yang aku takutkan. Aku takut ada aku kecil yang siap menjadi aku yang kotor dan penuh bau kotoran ini. Aku takut aku kecil mengajarkan bakal-bakal aku yang lain agar menjadi aku yang sekarang. Aku tidak ingin aku-aku yang lain menjadi aku yang rusak. Mungkin aku yang sekarang telah mati.Tetapi, hati-hati pada aku-aku yang lain. Yang bahkan akan jauh berbeda dengan sekarang. Jauh lebih kotor dan bau.  Ini semua karena proses yang berlangsung lama. Membentuk sedimentasi yang tak mempan oleh terjangan dan hujatan angin. Juga air. Atau api. ...

Aku Tak Memahami Ilalang

Aku Tak Memahami Ilalang : Aku yang tak memahami ilalang, atau ilalang yang tak memahamiku Sedari dulu aku mencari aku tak memahami ilalang, jika hanya dipandang tidak untuk dirasakan Sampai aku tertatih aku tak memahami ilalang, jika hanya disayang bukan di hati Sejauh aku menyambut aku tak memahami ilalang tentang arti melupakan dan menjauh pergi Ilalang yang memahamiku, tentang sebuah cinta kepada tubuh yang dipilih untuk disakiti Dan ilalang yang memahamiku, tentang meneruskan hidup untuk bernyanyi agar menyentuh langit negeri R.H.S