Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April 12, 2014

Penantian

Penantian Menunggu namamu yang mungil segera menjemputku. Ketika sebuah akibat muncul dikarenakan kau ada dan kemudian tiada. Hari esok dengan gamblangnya menganugerahkanku pada sepenggal lantunan yang kau bawa mati.  Dahulu. Masih kukecup datar kulitmu yang langsat. Kencang. Membuatku tergoda. Pagi. Dengan izin semesta, aku akan selalu menunggumu. R.H.S

Sekadar Salam

Sekadar Salam Salam sapa kepada bapak-bapak yang mengerti tentang naiknya elpiji, yang saling lempar bola lempar tanggung jawab. Salam sapa kepada ibu-ibu yang tak bisa berhenti berkicau tentang naiknya elpiji, yang menghabiskan koceknya sehingga mereka geram Salam sapa kepada pemuda yang bahkan baru tahu tentang naiknya elpiji, mereka tenggelam di dunia tawa tempat singgah tayangan tak bernyawa Salam sapa kepada para kreator politik yang pedas kata-katanya, tenang saja, percuma saja kau emosi. Toh, tak didengar juga. Mungkin, hanya dicatat dan diselipkan ke kantung celana. R.H.S

Pengakuan

Pengakuan Tuhan, aku menundukan wajah. Tahu aku terlalu banyak tersenyum, tanpa sadar bahwa orang lain murung. Tuhan, aku sedang menghela keringat. tahu aku telah dilumuri minyak-minyak jahat, yang biasa aku bersihkan dengan sapu tangan kesayanganku. Tuhan, aku sedang berkesungguhan. Tahu aku telah lalai di kesembaban lalu, yang membayang sampai hitam pekat. R.H.S

Ketika Sehelai Daunku Jatuh

Ketika Sehelai Daunku Jatuh Baru kali ini aku merelakan sehelai daunku jatuh. Tetapi, daun di tubuhku ini tidak hanya satu. Terdapat ribuan bahkan jutaan helai yang menempel padaku. Aku sangat bahagia saat dedikasi-dedikasi mereka begitu tinggi. Aku tersenyum dengan mereka yang muda. Tahan angin topan dan hujan. Padahal aku belum tentu sekuat mereka. Wahai bagian tubuhku yang melekat. Jangan lagi takut meranggas dan terjatuh di tanah. Karena dengan jatuhnya engkau, Itu artinya jatuh pula air mataku. R.H.S

Masih Politik

Masih Politik Setahun sejak adanya Masehi, sajak tentang kemerdekaan tak lagi mengeluar. Entah penduduk dunia yang telah merdeka seutuhnya. Atau mungkin singgasana para teknokrat yang menjepit-jepit mereka. Modus. Aku tak tahu. Pada sebuah keterikatan, zaman dengan zaman selanjutnya ada keterkaitan. Dengan pakem hasut-menghasut gaya bonaparte. Kata siapa. Aku tak tahu. Manusia yang menghubung secara hori dan verti, mulai lalai mengkorupsi lingkungannya. Politik tegur sapa katanya. Bubarkan saja. Aku tak tahu. R.H.S

Sajak Seorang Tahanan

Sajak Seorang Tahanan Kumelihat perhatianmu kepadaku dari balik jeruji besi. Sambil mengunyah roti yang diberi pak sipir tadi pagi. Kadang roti ini tak ku makan. Sentuh bagian muka saja tidak. Biasanya kubiarkan agar dilahap oleh binatang lapar. Bisa. Tikus. Dengan setelan compang-camping, ku selonjorkan kaki yang tadi pagi keram. Terkena lilitan syaraf. Leher. Bersitegang. Malamku serasa siang. Dan siang hariku terasa tak bermalam. Maklum. Aku tahanan. Aku habiskan waktu. Tidur pulas. Tidak ada yang membangunkan. R.H.S

Iya!

Iya! Sampai pada kesimpulan. Seharusnya kau pandai memahami, bahwa semua yang kau sangsikan kepadaku adalah tuduhan yang tak beralas. Sengketa pemikiran, perampasan otak, perajaman kebenaran demi kebenaran. Itu menggambarkan tentang kecintaanmu kepada kami. : iya Masih saja membutakanmu. Akan perihal yang sebiji zarah itu. Begitu indah pernyataan cintamu pada kami. : iya Aku harap engkau benar-benar cinta kepada kami. Orang yang tak bisa melihat kau meneteskan air mata. Kami cinta kau. : masalah lama R.H.S

Sebuah Memo

Sebuah Memo   Kelereng-kelereng adikku, masih tersusun rapi di dalam kaleng susu bekas. Ku teringat pada sebuah memo yang diberikannya padaku. "Ayah pergi dengan mata tertutup. Aku pun akan pergi dengan mata tertutup. Sempatkanlah menyiapkan matamu dahulu. Sebelum kau pergi dan tak akan kembali. Susunlah layaknya kelereng-kelerengku. Meski bertempat gelap dan sempit. Akan bertahan sampai tenggat waktu yang lama." Terakhir kali ku mengingatnya, ku meneteskan air mata. Kehilanganku. Susunan yang tidak teratur. R.H.S

Surat untuk Tukang Parkir

Surat untuk Tukang Parkir : untuk bapak tukang parkir Peluitmu sudah tua ya. Sampai tiupanmu tak lagi menggema. Menyeruak ke segala aspek pemerintahan. Di pinggiran jalan kota. Topimu juga sudah berkerak. Tidak layak untuk kau kenakan.Malah mencoreng wajah lugasmu. Enggan melindungimu dari serangan surya. Seragammu juga sudah mulai luntur nampaknya. Warnanya pudar dan berubah menjadi banyak warna. Bunglon. Pasti digunakan untuk mengelap dinding kotor. Budak. : bapak ini bukan tukang parkir,tetapi orang yang memarkir

Doaku Dalam Harapan

Doaku Dalam Harapan Untuk adik-adikku yang selalu menyapa cahaya, Aku tahu kalian sedang dirundung keandaian. Aku tahu kalian sedang menafsirkan angka baik dalam hidup. Aku pun tahu bahwa kalian sedang mengadu kepada Sang Penentu takdir. Adik-adikku yang bercahaya, Ambil satu dari sekian banyak peluhmu. Ambil satu makna yang kalian anggap teramat dibutuhkan. Jangan ambil peluh yang tidak berguna untuk kalian simpuhkan kepada-Nya.  Adik-adik cahayaku, Semboyankan bahasa indah. Aku yakin akan menggugurkan lara R.H.S

Senyuman Merah Muda

Senyuman Merah Muda Entah ilusi atau fatamorgana dari hadap ku melihat Parasmu dengan berjuta bunga yang merekah Begitu banyak daun yang tak pernah melepas keluh wajahmu Sederhana saja jika aku mulai menggerutu Karena gaduh yang bukan kepalang mengerumuni fikiranku Mengencangkan syaraf-syaraf nirwana yang kelak membuatku teramat gundah Guratan senyum yang kau goreskan di semerbak melati Tidak pernah hilang juga terang matamu Selalu kusangsikan sebagai keniscayaan Ada waktu dimana kawah pipimu dapat terekam Ada waktu dimana perantauan jiwa akan selalu berlabuh Kini kau menyentuh pekerjaan pena yang kau hiasi dengan tertawa atau tertegun Sebab kutahu ini hal yang membuatmu memangku tangan Wanita dengan hijab merah mudamu Angkatlah asa cerlah di samping bunga-bunga yang kusebutkan tadi dengan harummu yang mengepul Mampu membentuk awan Bahkan bintang di dalam qalbu Petuah akan selau mangkir Jika tak kau jalankan Laksana perah...

Senandung Suri Ramo

Senandung Suri Ramo Suri ramo ram ram de... Lalu lalang sedan tua yang kalang kabut di terjang traktor Sampai terbalik dan hancur. Dilindas pula. Kau gores aspal jadi beton. Kau cakar rumah tua jadi distro. Kau hempas taman jadi tol. Suri ramo ram ram de... Sebangsal dengan paruh baya yang melulu dibuai cinta Selalu padu pada tahta dan mahkota Melupakan wanita di halaman kota Kau cibir yang patriotik Kau melega dengan nafik Kau jaga orang yang mengusik Suri ramo ram ram de... : senandung terus jangan berhenti R.H.S

Duri Musim Semi

Duri Musim Semi Terimakasih untuk sebuah ucapan mawarmu. Yang merekah di tengah kuncupnya kawananku. Ketika sepi selalu datang dengan perantara duri. Aku hanyalah sebuah musim semi yang berangsur-angsur pulih, dari terjangan musim-musim sebelumnya. Melenyapkan kasih yang tak kunjung tersampaikan pada titik beku tertentu. Semua yang menjadi kesudahan telah tunggang langgang, di saat bungaku daunnya gugur satu persatu. Dan kini telah merekah sebagaimana kau inginkan. Aku adalah sebuah keterurutan dan kesiapan waktu yang mengundang duri tumbuh kembali. Yang menunggu musim lainnya datang menghampiri. Dengan goresan luka yang semakin abadi. R.H.S

Sebuah Resep Untukmu

Sebuah Resep Untukmu Aku usung sebuah kapas yang melampaui kekuatannya. Sebagai bahan yang bermanfaat bagi luka. Penambal ceceran antara darah dan daging. Sampai engkau pulih. Aku cermati beberapa instrumen pengobatan untukmu. Sambil kuracik ramuan yang membuatmu tidak merasa sakit. Dan hari-harimu selanjutnya membentang. Sampai kau lupa menoleh. Aku luangkan waktu untuk menjawab sekelumit pertanyaan yang kau sukai dan kau hargai. Yang aku pun hanya bisa menggerakkan leher dengan anggukan dan kepastian. Karena kesembuhanmu adalah tujuan utamaku. Sebab, sakit yang amat menyiksa itu masih terus menerus mampir padamu. Aku siapkan diri siapa tahu obatku tidaklah manjur. Setidaknya aku telah berulang kali masuk balai pelatihan pengobatan. Di kota maupun di desa tempat tinggalku. Meski, aku yakin bahwa hal itu bisa dinamakan angkuh. R.H.S