Langsung ke konten utama

Angsa Putihku

Angsa Putihku

Angsa putihku
Sampai detik danau menggenang
Ketika kepakan sayap membising deru
Isyarat teratai menaruh pilu
Pada gelombang yang menggetarkan semesta raya

Angsa putihku
Kau rebahkan bentang khatulistiwamu
dari pelosok hingga benua
mula jingga akhir gulita
sambil mencerengkan pulau-pulau terluka

Menerjang karang lapuk
yang ditanami lumut-lumut penghasut
Kau gigih kau luput
Tak sampai menguraikan elok kerut

: mestinya aku selalu mengingatkanmu

Angsa putihku,kembali pada tabiat
Pergi dari syafa'at

Bekasi, 16 April 2013

R.H.S

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memoar ke-3

: pasti berlalu Kau adalah yang pertama membuatku jatuh Dalam dekapan yang amat erat Sewaktu itu. Dan kau adalah yang pertama membuatku gemetar Dalam dinginnya malam Sekujur tubuhku kaku. Bekasi, 26 April 2015 R.H.S

Penantian

Penantian Menunggu namamu yang mungil segera menjemputku. Ketika sebuah akibat muncul dikarenakan kau ada dan kemudian tiada. Hari esok dengan gamblangnya menganugerahkanku pada sepenggal lantunan yang kau bawa mati.  Dahulu. Masih kukecup datar kulitmu yang langsat. Kencang. Membuatku tergoda. Pagi. Dengan izin semesta, aku akan selalu menunggumu. R.H.S

Kedua Tangan

Tanganku menelungkup di dada yang selalu saja mengiba untuk diperhatikan, sampai akhirnya aku dan kamu saling menghapus jarak dari pertemuan singkat itu, yang mendorong huruf terpisah dari kata, meninggalkan jejak diantara larik dan bait. Aku pun menerima sebuah kotak suci dari perbendaharaan kata Ilahi, ditulis singkat dengan tema buatanmu sendiri. Kurasa kertas dengan motif batik, sangat cocok untukku. Begitupun dengan kotak suci lipatanmu. : kuberikan dua telapak tangan yang terus melambai ke arahmu R.H.S