Langsung ke konten utama

Air Mata Kerontang

Air Mata Kerontang


Debu itu berlari menuju terowongan lisan
Tempat menggerus dan menumbuk waktu
yang udara sekitar seakan mengharuskan
Debu menjaring riak kerontang

Langkahku semaking sayu di hamparan tanah tak bernama
Dahaga duka senantiasa menghampiri
Keringat memuncratkan air kesetiaan
dari diriku dari nafasnya

Kaktus menjejerkan duri-duri masa penghabisan
Tajam mencolok mata orang buta
Sakit yang tak sebenarnya menyakitkan
Hati yang sebenarnya tersakiti

Andai ku menemukan mata air
Air mata akan kugadaikan

Bekasi, 13 April 2013

R.H.S

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memoar ke-3

: pasti berlalu Kau adalah yang pertama membuatku jatuh Dalam dekapan yang amat erat Sewaktu itu. Dan kau adalah yang pertama membuatku gemetar Dalam dinginnya malam Sekujur tubuhku kaku. Bekasi, 26 April 2015 R.H.S

Penantian

Penantian Menunggu namamu yang mungil segera menjemputku. Ketika sebuah akibat muncul dikarenakan kau ada dan kemudian tiada. Hari esok dengan gamblangnya menganugerahkanku pada sepenggal lantunan yang kau bawa mati.  Dahulu. Masih kukecup datar kulitmu yang langsat. Kencang. Membuatku tergoda. Pagi. Dengan izin semesta, aku akan selalu menunggumu. R.H.S

Kedua Tangan

Tanganku menelungkup di dada yang selalu saja mengiba untuk diperhatikan, sampai akhirnya aku dan kamu saling menghapus jarak dari pertemuan singkat itu, yang mendorong huruf terpisah dari kata, meninggalkan jejak diantara larik dan bait. Aku pun menerima sebuah kotak suci dari perbendaharaan kata Ilahi, ditulis singkat dengan tema buatanmu sendiri. Kurasa kertas dengan motif batik, sangat cocok untukku. Begitupun dengan kotak suci lipatanmu. : kuberikan dua telapak tangan yang terus melambai ke arahmu R.H.S