Langsung ke konten utama

Papan Catur

Papan Catur


Memilih singgahan berwarna hitam. Prajurit maskapai pertontonkan tabiatnya. Kuda-kuda menyusul di tempat yang siku-siku. Bersiap menggelapkan mata batin.

Dari sebuah peluncur pemberani. Putih. Menguak politik tentang wayang. Akhirnya menjadi kehitaman. Tidak menghilangkan setitik debu di tanah. Gugur dalam perang kemunafikan.

Menteri-menteri pecundang. Ambil alih serobot kanan, kiri, serong. Entah apa lagi.

Papan catur itu sistem. Telah teruji. Sebab dipakai menghancurkan lawan. Tanpa ampun.

Bekasi, 8 April 2013

R.H.S

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memoar ke-3

: pasti berlalu Kau adalah yang pertama membuatku jatuh Dalam dekapan yang amat erat Sewaktu itu. Dan kau adalah yang pertama membuatku gemetar Dalam dinginnya malam Sekujur tubuhku kaku. Bekasi, 26 April 2015 R.H.S

Penantian

Penantian Menunggu namamu yang mungil segera menjemputku. Ketika sebuah akibat muncul dikarenakan kau ada dan kemudian tiada. Hari esok dengan gamblangnya menganugerahkanku pada sepenggal lantunan yang kau bawa mati.  Dahulu. Masih kukecup datar kulitmu yang langsat. Kencang. Membuatku tergoda. Pagi. Dengan izin semesta, aku akan selalu menunggumu. R.H.S

Kedua Tangan

Tanganku menelungkup di dada yang selalu saja mengiba untuk diperhatikan, sampai akhirnya aku dan kamu saling menghapus jarak dari pertemuan singkat itu, yang mendorong huruf terpisah dari kata, meninggalkan jejak diantara larik dan bait. Aku pun menerima sebuah kotak suci dari perbendaharaan kata Ilahi, ditulis singkat dengan tema buatanmu sendiri. Kurasa kertas dengan motif batik, sangat cocok untukku. Begitupun dengan kotak suci lipatanmu. : kuberikan dua telapak tangan yang terus melambai ke arahmu R.H.S