Langsung ke konten utama

Duri Musim Semi

Duri Musim Semi

Terimakasih untuk sebuah ucapan mawarmu.
Yang merekah di tengah kuncupnya kawananku.
Ketika sepi selalu datang dengan perantara duri.

Aku hanyalah sebuah musim semi yang berangsur-angsur pulih,
dari terjangan musim-musim sebelumnya.
Melenyapkan kasih yang tak kunjung tersampaikan pada titik beku tertentu.

Semua yang menjadi kesudahan telah tunggang langgang,
di saat bungaku daunnya gugur satu persatu.
Dan kini telah merekah sebagaimana kau inginkan.

Aku adalah sebuah keterurutan dan kesiapan waktu yang mengundang duri tumbuh kembali.
Yang menunggu musim lainnya datang menghampiri.
Dengan goresan luka yang semakin abadi.


R.H.S

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memoar ke-3

: pasti berlalu Kau adalah yang pertama membuatku jatuh Dalam dekapan yang amat erat Sewaktu itu. Dan kau adalah yang pertama membuatku gemetar Dalam dinginnya malam Sekujur tubuhku kaku. Bekasi, 26 April 2015 R.H.S

Penantian

Penantian Menunggu namamu yang mungil segera menjemputku. Ketika sebuah akibat muncul dikarenakan kau ada dan kemudian tiada. Hari esok dengan gamblangnya menganugerahkanku pada sepenggal lantunan yang kau bawa mati.  Dahulu. Masih kukecup datar kulitmu yang langsat. Kencang. Membuatku tergoda. Pagi. Dengan izin semesta, aku akan selalu menunggumu. R.H.S

Kedua Tangan

Tanganku menelungkup di dada yang selalu saja mengiba untuk diperhatikan, sampai akhirnya aku dan kamu saling menghapus jarak dari pertemuan singkat itu, yang mendorong huruf terpisah dari kata, meninggalkan jejak diantara larik dan bait. Aku pun menerima sebuah kotak suci dari perbendaharaan kata Ilahi, ditulis singkat dengan tema buatanmu sendiri. Kurasa kertas dengan motif batik, sangat cocok untukku. Begitupun dengan kotak suci lipatanmu. : kuberikan dua telapak tangan yang terus melambai ke arahmu R.H.S