Langsung ke konten utama

Surat untuk Tukang Parkir

Surat untuk Tukang Parkir

: untuk bapak tukang parkir

Peluitmu sudah tua ya.
Sampai tiupanmu tak lagi menggema. Menyeruak ke segala aspek pemerintahan. Di pinggiran jalan kota.

Topimu juga sudah berkerak.
Tidak layak untuk kau kenakan.Malah mencoreng wajah lugasmu.
Enggan melindungimu dari serangan surya.

Seragammu juga sudah mulai luntur nampaknya.
Warnanya pudar dan berubah menjadi banyak warna.
Bunglon.

Pasti digunakan untuk mengelap dinding kotor.
Budak.

: bapak ini bukan tukang parkir,tetapi orang yang memarkir

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memoar ke-3

: pasti berlalu Kau adalah yang pertama membuatku jatuh Dalam dekapan yang amat erat Sewaktu itu. Dan kau adalah yang pertama membuatku gemetar Dalam dinginnya malam Sekujur tubuhku kaku. Bekasi, 26 April 2015 R.H.S

Review Ruangbelajar: Bimbel Online yang Menyediakan Materi Geografi Menarik

Awalnya di jurusan IPS, mata pelajaran yang paling aku tidak sukai adalah Geografi. Pelajaran yang membuat kepalaku mumet. Karena aku kurang menyukai beberapa materi seputar kondisi geografis, unsur tanah, wilayah dan lain-lain. Terlalu banyak hafalan yang membuat aku menjadi tidak tertarik dan enggan mempelajarinya. Hingga suatu ketika aku terbantu dengan pelajaran tersebut. Utamanya dalam hal menghafal wilayah suatu daerah sampai kondisi geografisnya. Aku jadi mengetahui fungsi peta dan bagaimana membedakan satu wilayah dengan wilayah lainnya. Aku yang bekerja di dunia penulisan, akhirnya juga memahami betapa pentingnya mempelajari geografi dan serius dengan tekun membuka kembali lembar pelajaran yang dahulu pernah aku sia-siakan. Namun, kenyataannya aku menemukan adik yang paling aku cintai pun kurang memahami dan tertarik dengan mata pelajaran ini. Ia telah duduk di bangku SMP kelas 9. Aku menjadi cemas ketika adikku juga kurang memahami mata pelajaran tersebut. ...

Penantian

Penantian Menunggu namamu yang mungil segera menjemputku. Ketika sebuah akibat muncul dikarenakan kau ada dan kemudian tiada. Hari esok dengan gamblangnya menganugerahkanku pada sepenggal lantunan yang kau bawa mati.  Dahulu. Masih kukecup datar kulitmu yang langsat. Kencang. Membuatku tergoda. Pagi. Dengan izin semesta, aku akan selalu menunggumu. R.H.S