Langsung ke konten utama

PUISI II

PUISI II


Aku mendengar bunyi
Sajak yang bernada
Dari setiap not-not kehidupan
Nadanya tinggi rendah
Nikmati saja

Sudah lama aku
mendambakan suara merdu itu
dengan iringan burung yang bergerombol
di pinggir selokan yang tak lagi mengalir airnya
Aku menikmati hidup ini

Masih suara merdu itu,
Nadanya sungguh membuat bulu kuduk tersenyum
Pohon-pohon palem juga turut bernyanyi
sambil berbaris rapi.
Sungguh, aku menikmati keadaan ini.

Duhai suara nan merdu,
Aku tahu lika-liku hidup memang tak pernah ada.
Tak pernah tiada.
Sebab, sudah jelas terlihat dalam sebuah buku.
Rahasia.

Aku adalah jalan untuk kau berjalan.
Aku adalah lantunan untuk bernyanyi.
Bahagia.


R.H.S

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memoar ke-3

: pasti berlalu Kau adalah yang pertama membuatku jatuh Dalam dekapan yang amat erat Sewaktu itu. Dan kau adalah yang pertama membuatku gemetar Dalam dinginnya malam Sekujur tubuhku kaku. Bekasi, 26 April 2015 R.H.S

Penantian

Penantian Menunggu namamu yang mungil segera menjemputku. Ketika sebuah akibat muncul dikarenakan kau ada dan kemudian tiada. Hari esok dengan gamblangnya menganugerahkanku pada sepenggal lantunan yang kau bawa mati.  Dahulu. Masih kukecup datar kulitmu yang langsat. Kencang. Membuatku tergoda. Pagi. Dengan izin semesta, aku akan selalu menunggumu. R.H.S

Kedua Tangan

Tanganku menelungkup di dada yang selalu saja mengiba untuk diperhatikan, sampai akhirnya aku dan kamu saling menghapus jarak dari pertemuan singkat itu, yang mendorong huruf terpisah dari kata, meninggalkan jejak diantara larik dan bait. Aku pun menerima sebuah kotak suci dari perbendaharaan kata Ilahi, ditulis singkat dengan tema buatanmu sendiri. Kurasa kertas dengan motif batik, sangat cocok untukku. Begitupun dengan kotak suci lipatanmu. : kuberikan dua telapak tangan yang terus melambai ke arahmu R.H.S