Langsung ke konten utama

SAJAK I

SAJAK I


Bukan aku ingin banyak bicara.
Karena kata ini terlalu sulit untuk terucap sebelumnya.
Pada masa yang lalu.
Tapi, aku yakin dan pantas untuk kau baca.

Entah pagi yang bagaimana yang aku butuhkan.
Entah embun yang seembun apa yang aku rasakan.
Hanya kau yang aku ingat.

Ketika melihat matahari muncul,
Begitu ku teringat pada senyum simpul yang kau berikan.

Ketika kuayuh kuda besi tadi,
Masih membayangkan begitu indah perilakumu
Terhadap manusia ini

Jika memang barisan pagi,
Embun,
dan keadaan sekelilingku dapat aku simpul.
Maka kudapatkan sejelas-jelasnya sosokmu.
Membekas.
Bahagia.

R.H.S


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memoar ke-3

: pasti berlalu Kau adalah yang pertama membuatku jatuh Dalam dekapan yang amat erat Sewaktu itu. Dan kau adalah yang pertama membuatku gemetar Dalam dinginnya malam Sekujur tubuhku kaku. Bekasi, 26 April 2015 R.H.S

Penantian

Penantian Menunggu namamu yang mungil segera menjemputku. Ketika sebuah akibat muncul dikarenakan kau ada dan kemudian tiada. Hari esok dengan gamblangnya menganugerahkanku pada sepenggal lantunan yang kau bawa mati.  Dahulu. Masih kukecup datar kulitmu yang langsat. Kencang. Membuatku tergoda. Pagi. Dengan izin semesta, aku akan selalu menunggumu. R.H.S

Kedua Tangan

Tanganku menelungkup di dada yang selalu saja mengiba untuk diperhatikan, sampai akhirnya aku dan kamu saling menghapus jarak dari pertemuan singkat itu, yang mendorong huruf terpisah dari kata, meninggalkan jejak diantara larik dan bait. Aku pun menerima sebuah kotak suci dari perbendaharaan kata Ilahi, ditulis singkat dengan tema buatanmu sendiri. Kurasa kertas dengan motif batik, sangat cocok untukku. Begitupun dengan kotak suci lipatanmu. : kuberikan dua telapak tangan yang terus melambai ke arahmu R.H.S