Langsung ke konten utama

SAJAK III

SAJAK III


Melepas mata yang semalam terpancar
Pada sejuta celah-celah cahaya
Aku masih tak bias melepas mataku
Tertuju padamu

Saat jemariku mulai menganyam jejaring  cinta yang bersama  kita rajut.
Itu adalah kebersamaan.
Ya,  kusebut ini cinta bersama.

Ada kalanya hal yang seperti itu,
diremehkan,
dibawahkan dan dijatuhkan.

Aku tak pernah anggap itu sepele
Memang berbagai cara layak itu tidak begitu mewah.
Karena kemewahan hanyalah perhiasan yang tak abadi.

Kekinianku mulai merangsek di sebagian tubuhmu.
Entah di bagian mana dan lewat mana.
Entah pada kesadaran yang bagaimana dan tingkat berapa.

Aku tahu bahwa lukisan dunia
Masih belum seindah perjalanan kaki-kaki kita.
Senang menopang dan membata salah satunya.
Indah.

: Agar nantinya selalu indah


R.H.S

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memoar ke-3

: pasti berlalu Kau adalah yang pertama membuatku jatuh Dalam dekapan yang amat erat Sewaktu itu. Dan kau adalah yang pertama membuatku gemetar Dalam dinginnya malam Sekujur tubuhku kaku. Bekasi, 26 April 2015 R.H.S

Penantian

Penantian Menunggu namamu yang mungil segera menjemputku. Ketika sebuah akibat muncul dikarenakan kau ada dan kemudian tiada. Hari esok dengan gamblangnya menganugerahkanku pada sepenggal lantunan yang kau bawa mati.  Dahulu. Masih kukecup datar kulitmu yang langsat. Kencang. Membuatku tergoda. Pagi. Dengan izin semesta, aku akan selalu menunggumu. R.H.S

Kedua Tangan

Tanganku menelungkup di dada yang selalu saja mengiba untuk diperhatikan, sampai akhirnya aku dan kamu saling menghapus jarak dari pertemuan singkat itu, yang mendorong huruf terpisah dari kata, meninggalkan jejak diantara larik dan bait. Aku pun menerima sebuah kotak suci dari perbendaharaan kata Ilahi, ditulis singkat dengan tema buatanmu sendiri. Kurasa kertas dengan motif batik, sangat cocok untukku. Begitupun dengan kotak suci lipatanmu. : kuberikan dua telapak tangan yang terus melambai ke arahmu R.H.S