Langsung ke konten utama

Memoar ke-2



Ku berkendara dalam hujan
Pada namamu
banyak orang sering perbincangkan
tak sedikit yang terpukau

Kau yang setiap orang melihat matamu
Terdapat perasaan untuk ingin tahu
Pada parasmu yang selalu mereka fikirkan
Menjelma manusia yang begitu sempurna

Dan aku bertanya pada setiap potongan tubuhku
Manakah yang menjadi bagian dari tubuhmu?
Yang mengoperasikan setiap geraknya pada sebuah engkau
Karena aku teramat buruk dalam menerka

Ku mulai menghentikan kendaraanku
Sebab kaki yang tak bisa lagi berpijak
Pada tuas pengendalinya
Telah lesu

Ketika matari menyongsong di atas kepalaku
Melihat sebuah cintaku yang berjalan
Berangsur pergi
Mengikuti arah sinar terik itu

Kau yang mencintai pusat cahayamu
Dan aku yang mencintai bayanganmu
Dalam keadaan yang begitu jelas
Aku mencintaimu.


Bekasi, 25 April 2015

R.H.S

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memoar ke-3

: pasti berlalu Kau adalah yang pertama membuatku jatuh Dalam dekapan yang amat erat Sewaktu itu. Dan kau adalah yang pertama membuatku gemetar Dalam dinginnya malam Sekujur tubuhku kaku. Bekasi, 26 April 2015 R.H.S

Penantian

Penantian Menunggu namamu yang mungil segera menjemputku. Ketika sebuah akibat muncul dikarenakan kau ada dan kemudian tiada. Hari esok dengan gamblangnya menganugerahkanku pada sepenggal lantunan yang kau bawa mati.  Dahulu. Masih kukecup datar kulitmu yang langsat. Kencang. Membuatku tergoda. Pagi. Dengan izin semesta, aku akan selalu menunggumu. R.H.S

Kedua Tangan

Tanganku menelungkup di dada yang selalu saja mengiba untuk diperhatikan, sampai akhirnya aku dan kamu saling menghapus jarak dari pertemuan singkat itu, yang mendorong huruf terpisah dari kata, meninggalkan jejak diantara larik dan bait. Aku pun menerima sebuah kotak suci dari perbendaharaan kata Ilahi, ditulis singkat dengan tema buatanmu sendiri. Kurasa kertas dengan motif batik, sangat cocok untukku. Begitupun dengan kotak suci lipatanmu. : kuberikan dua telapak tangan yang terus melambai ke arahmu R.H.S