Langsung ke konten utama

Sajak VI



Sajak VI

Aku selalu ingin menjadi seteguk madu. Manis.
Tersimpan untukmu di secangkir air hangat.
Supaya kau tidak batuk;meraung di hadapanku.

Aku selalu ingin menjadi kembang lelapmu. Mawar.
Seperti engkau menjaga mawar. Yang senantiasa hidup tanpa kau sadari.
Tanpa kau ketahui.

Aku selalu ingin berbuat abdi. Sopan.
Ketika kau menjadi bertanya. Tentang apakah yang aku sembunyikan.
Memang aku sangat benci pada yang ku sembunyikan.
Aku tak suka kau tak tahu apa yang kutahu. Makanya kau harus tahu dan bertanya.

Aku selalu ingin menghiburmu. Senyum.
Meski itu hanyalah pengumpama. Dari lesung pipitmu yang curam.
Menarikku kepada dimensimu. Yang hanya kita  berdua melewatinya.
Bukan yang lain.

Aku ingin menjadi keselamaannya. Abadi.
Tidak akan sulit jika kita mempunyai tali.
Tali dari baja. Kuat.
Yang mengaitkan aku dan kau.
Dalam genggaman tangan berdua; Aku dan kau. Ya.

 Secoret aku dalam tetes hujan yang kau turunkan kepadaku.
Aku adalah kebahagiaanmu. 
Tahu.

R.H.S

   foto: iphonesia.com




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memoar ke-3

: pasti berlalu Kau adalah yang pertama membuatku jatuh Dalam dekapan yang amat erat Sewaktu itu. Dan kau adalah yang pertama membuatku gemetar Dalam dinginnya malam Sekujur tubuhku kaku. Bekasi, 26 April 2015 R.H.S

Review Ruangbelajar: Bimbel Online yang Menyediakan Materi Geografi Menarik

Awalnya di jurusan IPS, mata pelajaran yang paling aku tidak sukai adalah Geografi. Pelajaran yang membuat kepalaku mumet. Karena aku kurang menyukai beberapa materi seputar kondisi geografis, unsur tanah, wilayah dan lain-lain. Terlalu banyak hafalan yang membuat aku menjadi tidak tertarik dan enggan mempelajarinya. Hingga suatu ketika aku terbantu dengan pelajaran tersebut. Utamanya dalam hal menghafal wilayah suatu daerah sampai kondisi geografisnya. Aku jadi mengetahui fungsi peta dan bagaimana membedakan satu wilayah dengan wilayah lainnya. Aku yang bekerja di dunia penulisan, akhirnya juga memahami betapa pentingnya mempelajari geografi dan serius dengan tekun membuka kembali lembar pelajaran yang dahulu pernah aku sia-siakan. Namun, kenyataannya aku menemukan adik yang paling aku cintai pun kurang memahami dan tertarik dengan mata pelajaran ini. Ia telah duduk di bangku SMP kelas 9. Aku menjadi cemas ketika adikku juga kurang memahami mata pelajaran tersebut. ...

Penantian

Penantian Menunggu namamu yang mungil segera menjemputku. Ketika sebuah akibat muncul dikarenakan kau ada dan kemudian tiada. Hari esok dengan gamblangnya menganugerahkanku pada sepenggal lantunan yang kau bawa mati.  Dahulu. Masih kukecup datar kulitmu yang langsat. Kencang. Membuatku tergoda. Pagi. Dengan izin semesta, aku akan selalu menunggumu. R.H.S