Langsung ke konten utama

Apa Iya Orang Bisa Berubah Secepat Itu?

Waktu yang singkat saat melihatmu hari ini. Tak biasanya aku menepuk hatiku. Sambil ku pegang ingatan tentang kata-katamu yang telah mendebu.

Sejenak aku tak mengalihkan pandanganku terhadapmu. Aku dalam beberapa menit tak beranjak dari tempat ku duduk. Sambil memegang air mineral. Aku berupaya menahan rasa gemetarku yang menjadi-jadi.

Selang beberapa waktu, aku mulai terbiasa dengan gemetar. Sambil dengan lugunya aku memanggilmu. Sekali kau tak meresponsku, dua kali. Kurasa aku harus menyambangimu.

Aku sapa dan kau telah berubah wajah. Apa iya ini ilusi optik. Atau mungkin wajahmu secepat itu tak bisa kukenali lagi. Ah, mungkin aku salah orang.
Aku masih tak percaya. Apa iya orang bisa berubah secepat itu?

Jakarta, 17 Desember 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memoar ke-3

: pasti berlalu Kau adalah yang pertama membuatku jatuh Dalam dekapan yang amat erat Sewaktu itu. Dan kau adalah yang pertama membuatku gemetar Dalam dinginnya malam Sekujur tubuhku kaku. Bekasi, 26 April 2015 R.H.S

Penantian

Penantian Menunggu namamu yang mungil segera menjemputku. Ketika sebuah akibat muncul dikarenakan kau ada dan kemudian tiada. Hari esok dengan gamblangnya menganugerahkanku pada sepenggal lantunan yang kau bawa mati.  Dahulu. Masih kukecup datar kulitmu yang langsat. Kencang. Membuatku tergoda. Pagi. Dengan izin semesta, aku akan selalu menunggumu. R.H.S

Kedua Tangan

Tanganku menelungkup di dada yang selalu saja mengiba untuk diperhatikan, sampai akhirnya aku dan kamu saling menghapus jarak dari pertemuan singkat itu, yang mendorong huruf terpisah dari kata, meninggalkan jejak diantara larik dan bait. Aku pun menerima sebuah kotak suci dari perbendaharaan kata Ilahi, ditulis singkat dengan tema buatanmu sendiri. Kurasa kertas dengan motif batik, sangat cocok untukku. Begitupun dengan kotak suci lipatanmu. : kuberikan dua telapak tangan yang terus melambai ke arahmu R.H.S