Langsung ke konten utama

Hari-Hari ini Aku Membutuhkanmu

 

Hanya dirimu
Tempat paling nyaman untukku mengingat
Padang dari dua atau tiga tahun lalu yang kelabu
Waktu di saat aku mulai mengganti rajutan berpikirku
Hanya dirimu
Tempat ku menangis dan menjelaskan banyak benang yang semakin ruwet, bahkan putus
Walau telah ku simpan berpintal-pintal
Habis dalam waktu sekejap

Hari-hari ini aku membutuhkanmu
Sebagai penanggungjawab rajutan itu
Memastikan tak ada benang yang habis
Tak ada cinta yang tiada dalam setiap rajutannya
Hari-hari ke depan aku terus mencarimu
Menanyakan tentang pakaian mana yang pas untukku
Berdasar apa yang menjadi pintamu saat merajut pakaian itu
Utamanya tentang diriku ini
Bersamamu.

Jakarta, 25 Desember 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memoar ke-3

: pasti berlalu Kau adalah yang pertama membuatku jatuh Dalam dekapan yang amat erat Sewaktu itu. Dan kau adalah yang pertama membuatku gemetar Dalam dinginnya malam Sekujur tubuhku kaku. Bekasi, 26 April 2015 R.H.S

Penantian

Penantian Menunggu namamu yang mungil segera menjemputku. Ketika sebuah akibat muncul dikarenakan kau ada dan kemudian tiada. Hari esok dengan gamblangnya menganugerahkanku pada sepenggal lantunan yang kau bawa mati.  Dahulu. Masih kukecup datar kulitmu yang langsat. Kencang. Membuatku tergoda. Pagi. Dengan izin semesta, aku akan selalu menunggumu. R.H.S

Kedua Tangan

Tanganku menelungkup di dada yang selalu saja mengiba untuk diperhatikan, sampai akhirnya aku dan kamu saling menghapus jarak dari pertemuan singkat itu, yang mendorong huruf terpisah dari kata, meninggalkan jejak diantara larik dan bait. Aku pun menerima sebuah kotak suci dari perbendaharaan kata Ilahi, ditulis singkat dengan tema buatanmu sendiri. Kurasa kertas dengan motif batik, sangat cocok untukku. Begitupun dengan kotak suci lipatanmu. : kuberikan dua telapak tangan yang terus melambai ke arahmu R.H.S