Langsung ke konten utama

Kau Tak Menemukan Hatimu Lagi

 

Tak ada lagi yang bisa kau harapkan 
Selain menata kembali kewarasanmu
yang sudah tertutup dengan insiden malam itu

Kebijakan seseorang yang kau kira akan menenangkan hatimu
Rajutan dan sulamannya
Membuat matamu selalu berbinar
Dan mengikuti arah geraknya
Instruksi yang kau anggap akan mengubah kewarasan
Tak lagi mencerminkan dirimu dahulu
Semua hanya menjadi imaji dalam langkahmu yang sedang lunglai
Tertatih
Perlahan tergontai-gontai, lalu dengan mudahnya terperosok
Ke dalam palung dadamu sendiri
Kau tak menemukan hatimu lagi
Sebab di malam itu, dia telah menghilangkan lusinan rasa terhadapku 
yang pernah kau pupuk di dalam rongga dadamu
Hatimu telah menjadi tanaman langka. 
Tak merambat atau berkecambah. 
Tidak pula dapat dirasakan oleh indera manapun.

Jakarta, 22 Desember 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memoar ke-3

: pasti berlalu Kau adalah yang pertama membuatku jatuh Dalam dekapan yang amat erat Sewaktu itu. Dan kau adalah yang pertama membuatku gemetar Dalam dinginnya malam Sekujur tubuhku kaku. Bekasi, 26 April 2015 R.H.S

Penantian

Penantian Menunggu namamu yang mungil segera menjemputku. Ketika sebuah akibat muncul dikarenakan kau ada dan kemudian tiada. Hari esok dengan gamblangnya menganugerahkanku pada sepenggal lantunan yang kau bawa mati.  Dahulu. Masih kukecup datar kulitmu yang langsat. Kencang. Membuatku tergoda. Pagi. Dengan izin semesta, aku akan selalu menunggumu. R.H.S

Kedua Tangan

Tanganku menelungkup di dada yang selalu saja mengiba untuk diperhatikan, sampai akhirnya aku dan kamu saling menghapus jarak dari pertemuan singkat itu, yang mendorong huruf terpisah dari kata, meninggalkan jejak diantara larik dan bait. Aku pun menerima sebuah kotak suci dari perbendaharaan kata Ilahi, ditulis singkat dengan tema buatanmu sendiri. Kurasa kertas dengan motif batik, sangat cocok untukku. Begitupun dengan kotak suci lipatanmu. : kuberikan dua telapak tangan yang terus melambai ke arahmu R.H.S