Langsung ke konten utama

Keraguan Macam Apa Ini

 

Mengapa aku sekarang meragu?
Padahal sudah sekian kali aku melewati kejadian ini
Semua hal tentang imaji 
yang tak pernah sampai sejengkal pada ekspektasiku
Kau selalu mendahuluiku
Mengapa aku sekarang meragu?
Sebab sehasta saja tak pernah ku mampu mengejarmu
Telapak tanganku terus meraihmu 
dengan badanku yang telah tersungkur di tanah
Wajahku menghadap kepada bumi ini
Mengapa aku sekarang meragu?
Ketika bayangmu telah sampai di pelupuk mataku
Bahkan seraya aku merapal doa-doa
Aku masih tak kunjung jua menggapaimu
Sebenarnya keraguan macam apa ini.

Jakarta, 26 Desember 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memoar ke-3

: pasti berlalu Kau adalah yang pertama membuatku jatuh Dalam dekapan yang amat erat Sewaktu itu. Dan kau adalah yang pertama membuatku gemetar Dalam dinginnya malam Sekujur tubuhku kaku. Bekasi, 26 April 2015 R.H.S

Penantian

Penantian Menunggu namamu yang mungil segera menjemputku. Ketika sebuah akibat muncul dikarenakan kau ada dan kemudian tiada. Hari esok dengan gamblangnya menganugerahkanku pada sepenggal lantunan yang kau bawa mati.  Dahulu. Masih kukecup datar kulitmu yang langsat. Kencang. Membuatku tergoda. Pagi. Dengan izin semesta, aku akan selalu menunggumu. R.H.S

Kedua Tangan

Tanganku menelungkup di dada yang selalu saja mengiba untuk diperhatikan, sampai akhirnya aku dan kamu saling menghapus jarak dari pertemuan singkat itu, yang mendorong huruf terpisah dari kata, meninggalkan jejak diantara larik dan bait. Aku pun menerima sebuah kotak suci dari perbendaharaan kata Ilahi, ditulis singkat dengan tema buatanmu sendiri. Kurasa kertas dengan motif batik, sangat cocok untukku. Begitupun dengan kotak suci lipatanmu. : kuberikan dua telapak tangan yang terus melambai ke arahmu R.H.S