Langsung ke konten utama

Kupikir Kau akan Tetap Sehat

 

Sebaik-baiknya aku adalah yang mendoakanmu 
Seburuk bagaimanapun perlakuanmu padaku
Sebenci apapun dirimu terhadapku
Aku selalu menggunakan kedua tanganku 
dengan mendoakanmu
Di pagi menjelang siang
Pada sore menjelang malam
Waktu itu di persimpangan jalan
Tempat lampu-lampu gemerlap dan suara bising kendaraan
Meski tak menemukanmu,
Aku menemukan harapan dari banyaknya jalan 
yang kulewati dan kupilih sendiri
Kupikir kau akan tetap sehat. 
Walau tak melulu aku di sisimu. 
Meski kabar hanya datang saat harapan sudah hilang.

Jakarta, 31 Desember 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memoar ke-3

: pasti berlalu Kau adalah yang pertama membuatku jatuh Dalam dekapan yang amat erat Sewaktu itu. Dan kau adalah yang pertama membuatku gemetar Dalam dinginnya malam Sekujur tubuhku kaku. Bekasi, 26 April 2015 R.H.S

Penantian

Penantian Menunggu namamu yang mungil segera menjemputku. Ketika sebuah akibat muncul dikarenakan kau ada dan kemudian tiada. Hari esok dengan gamblangnya menganugerahkanku pada sepenggal lantunan yang kau bawa mati.  Dahulu. Masih kukecup datar kulitmu yang langsat. Kencang. Membuatku tergoda. Pagi. Dengan izin semesta, aku akan selalu menunggumu. R.H.S

Kedua Tangan

Tanganku menelungkup di dada yang selalu saja mengiba untuk diperhatikan, sampai akhirnya aku dan kamu saling menghapus jarak dari pertemuan singkat itu, yang mendorong huruf terpisah dari kata, meninggalkan jejak diantara larik dan bait. Aku pun menerima sebuah kotak suci dari perbendaharaan kata Ilahi, ditulis singkat dengan tema buatanmu sendiri. Kurasa kertas dengan motif batik, sangat cocok untukku. Begitupun dengan kotak suci lipatanmu. : kuberikan dua telapak tangan yang terus melambai ke arahmu R.H.S