Langsung ke konten utama

Sewaktu Kecil Aku Sudah Mengagumimu


Pagi-pagi sekali aku telah sibuk mengingatmu
Mencoba mengalihkan pandangan ke arah lapang
Menemukan pohon dan ranting yang baru saja terbangun
Disusul banyak buah-buahan yang jatuh karena sudah masak
Aku ingat betul waktu kita kecil
Puluhan burung hinggap di ranting pohon tusam depan rumahku
Kau coba menangkapnya
Aku sempat memperhatikanmu

Apalagi ketika kau mampu menangkap dua dari puluhan estrildidae
Mataku tak bisa mengalihkan pandangannya kepadamu
Sewaktu kecil aku sudah mengagumimu
Sebab, sejak itu pula aku diajarkan untuk mensyukuri apapun
Baik itu hal-hal yang hanya mampu ku lakukan dari balik jendela
Atau mungkin kuperjuangkan sendiri
Sejak kecil aku suka membaca pikiran sesiapa yang kulihat
Dan kusapa
Walaupun tak selalu kuingat seperti dirimu

Jakarta, 19 Desember 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memoar ke-3

: pasti berlalu Kau adalah yang pertama membuatku jatuh Dalam dekapan yang amat erat Sewaktu itu. Dan kau adalah yang pertama membuatku gemetar Dalam dinginnya malam Sekujur tubuhku kaku. Bekasi, 26 April 2015 R.H.S

Penantian

Penantian Menunggu namamu yang mungil segera menjemputku. Ketika sebuah akibat muncul dikarenakan kau ada dan kemudian tiada. Hari esok dengan gamblangnya menganugerahkanku pada sepenggal lantunan yang kau bawa mati.  Dahulu. Masih kukecup datar kulitmu yang langsat. Kencang. Membuatku tergoda. Pagi. Dengan izin semesta, aku akan selalu menunggumu. R.H.S

Kedua Tangan

Tanganku menelungkup di dada yang selalu saja mengiba untuk diperhatikan, sampai akhirnya aku dan kamu saling menghapus jarak dari pertemuan singkat itu, yang mendorong huruf terpisah dari kata, meninggalkan jejak diantara larik dan bait. Aku pun menerima sebuah kotak suci dari perbendaharaan kata Ilahi, ditulis singkat dengan tema buatanmu sendiri. Kurasa kertas dengan motif batik, sangat cocok untukku. Begitupun dengan kotak suci lipatanmu. : kuberikan dua telapak tangan yang terus melambai ke arahmu R.H.S