Langsung ke konten utama

Merpati Putihmu

Merpati Putihmu

Aku yang terpendam oleh teriknya mentari
Enggan keluar dari pintu surga
Meski merpati-merpatimu telah merayu
Di pelataran taman mungilku

Aku yang selalu mengumbar senyum pada dunia
Masih saja lengah tentang merpatimu yang suci itu
Apakah aku mulai tergoda?
Hingga fikiranku mengelabu menjelma warna sejati

Aku yang mempunyai rasa iba
Terlalu kecut untuk mengulangi cerita tentang manusia langit
yang diajak Tuhan untuk menapakan kaki di bumi
dengan telanjang kaki maupun beralas kaki

Sungguh, merpatimu begitu sering mengudara di atas kediamanku
Aku takut dengan bulu-bulu halusnya
yang bertebaran tepat di rongga atap
Mampu menutupi lubang perapian

Terkadang rasa kesalku semakin menjadi-jadi
Sebab, engkau tak kunjung muncul
Hanya bersua dengan nada lirih
Lalu, merpatimu datang beriringan menuju kediamanku
Senyum, bergerak perlahan lalu terbang
Dengan sejuta rasa sabarku,
Aku mulai memanipulasi diriku dengan sebutan Andai

Andaikan aku seperti manusia,
Begitu ekspresif dalam mencari cinta

Andaikan aku seperti manusia,
Suka melupakan batasan-batasan langit
Menceracau seperti burung beo
yang pandai meniru segala bentuk perkataan orang

Andaikan saja aku manusia,
Bebas menentukan sikap
untuk mengarah kanan atau cenderung ke kiri
memonopolikan politik dan ekonomi yang berbasis rasa sayang

Andaikan wujudku manusia,
Aku mungkin mengharapkan sesuatu yang tidak hierarki
Mencari teori penuntun pada kesetaraan
Aku tidak suka ketimpangan

Andaikan aku seperti manusia,
Mungkin aku akan menjadi kritikus
Yang berangsur-angsur menghilang
Layaknya pulau-pulau yang habis dikeruk

Andaikan aku seperti itu,
Aku mungkin lupa dengan merpati-merpatimu
Sebab manusia selalu lupa pada dirinya sendiri
Bahkan pada asal mula diciptakannya

R.H.S

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memoar ke-3

: pasti berlalu Kau adalah yang pertama membuatku jatuh Dalam dekapan yang amat erat Sewaktu itu. Dan kau adalah yang pertama membuatku gemetar Dalam dinginnya malam Sekujur tubuhku kaku. Bekasi, 26 April 2015 R.H.S

Penantian

Penantian Menunggu namamu yang mungil segera menjemputku. Ketika sebuah akibat muncul dikarenakan kau ada dan kemudian tiada. Hari esok dengan gamblangnya menganugerahkanku pada sepenggal lantunan yang kau bawa mati.  Dahulu. Masih kukecup datar kulitmu yang langsat. Kencang. Membuatku tergoda. Pagi. Dengan izin semesta, aku akan selalu menunggumu. R.H.S

Kedua Tangan

Tanganku menelungkup di dada yang selalu saja mengiba untuk diperhatikan, sampai akhirnya aku dan kamu saling menghapus jarak dari pertemuan singkat itu, yang mendorong huruf terpisah dari kata, meninggalkan jejak diantara larik dan bait. Aku pun menerima sebuah kotak suci dari perbendaharaan kata Ilahi, ditulis singkat dengan tema buatanmu sendiri. Kurasa kertas dengan motif batik, sangat cocok untukku. Begitupun dengan kotak suci lipatanmu. : kuberikan dua telapak tangan yang terus melambai ke arahmu R.H.S