Langsung ke konten utama

Puisi VIII



Puisi VIII

Pada suatu hari yang biru,
Aku mencoba untuk sekali saja dikalahkan keadaan.
Meski matari tak rela.
Enggan menghendaki.

Saat itu burung pipit yang sejak malam menyembunyi mampir.
Hendak bertanya akan sesuatu.
Tentang istilah kesunyian.
Lalu menyegerakan pergi.
Jauh dari pandang.

Karena hari biru inilah yang dieluh-eluhkan.
Untuk sekadar melongok hidup dua orang insan.
Yang masih lugu dan lucu.
Yang tak lebih tahu tentang apa yang terjadi di kemudian malam.

Begitu membahayakan jika malam,
Telah mapan dengan kegelapannya.
Bahkan watak pun telah menggelap.
Seperti tak tahu arah.

Begitu menderita jika malam,
terus dihantui rasa bersalah.
Yang kemudian menyakiti orang-orang tercinta.
Sehingga melahirkan sebuah kebengisan.
Kebencian.

Itulah yang aku khawatirkan.
Supaya nantinya kita mengerti dan paham.
Bukan benci yang dituju malam.
Bukan itu.

Selanjutnya, ku merindukanmu.
Seindah-indahnya kerinduan.
Secemerlang emas perak. Meski, kita sering berjumpa.
Selalu bertegur sapa.

Suatu malam biru di tepi senja

R.H.S



foto: ourgom.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memoar ke-3

: pasti berlalu Kau adalah yang pertama membuatku jatuh Dalam dekapan yang amat erat Sewaktu itu. Dan kau adalah yang pertama membuatku gemetar Dalam dinginnya malam Sekujur tubuhku kaku. Bekasi, 26 April 2015 R.H.S

Review Ruangbelajar: Bimbel Online yang Menyediakan Materi Geografi Menarik

Awalnya di jurusan IPS, mata pelajaran yang paling aku tidak sukai adalah Geografi. Pelajaran yang membuat kepalaku mumet. Karena aku kurang menyukai beberapa materi seputar kondisi geografis, unsur tanah, wilayah dan lain-lain. Terlalu banyak hafalan yang membuat aku menjadi tidak tertarik dan enggan mempelajarinya. Hingga suatu ketika aku terbantu dengan pelajaran tersebut. Utamanya dalam hal menghafal wilayah suatu daerah sampai kondisi geografisnya. Aku jadi mengetahui fungsi peta dan bagaimana membedakan satu wilayah dengan wilayah lainnya. Aku yang bekerja di dunia penulisan, akhirnya juga memahami betapa pentingnya mempelajari geografi dan serius dengan tekun membuka kembali lembar pelajaran yang dahulu pernah aku sia-siakan. Namun, kenyataannya aku menemukan adik yang paling aku cintai pun kurang memahami dan tertarik dengan mata pelajaran ini. Ia telah duduk di bangku SMP kelas 9. Aku menjadi cemas ketika adikku juga kurang memahami mata pelajaran tersebut. ...

Penantian

Penantian Menunggu namamu yang mungil segera menjemputku. Ketika sebuah akibat muncul dikarenakan kau ada dan kemudian tiada. Hari esok dengan gamblangnya menganugerahkanku pada sepenggal lantunan yang kau bawa mati.  Dahulu. Masih kukecup datar kulitmu yang langsat. Kencang. Membuatku tergoda. Pagi. Dengan izin semesta, aku akan selalu menunggumu. R.H.S