Langsung ke konten utama

Sebuah Memo

Sebuah Memo 

Kelereng-kelereng adikku,
masih tersusun rapi di dalam kaleng susu bekas.
Ku teringat pada sebuah memo yang diberikannya padaku.

"Ayah pergi dengan mata tertutup. Aku pun akan pergi dengan mata tertutup. Sempatkanlah menyiapkan matamu dahulu. Sebelum kau pergi dan tak akan kembali.
Susunlah layaknya kelereng-kelerengku. Meski bertempat gelap dan sempit. Akan bertahan sampai tenggat waktu yang lama."

Terakhir kali ku mengingatnya,
ku meneteskan air mata.
Kehilanganku.
Susunan yang tidak teratur.


R.H.S

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memoar ke-3

: pasti berlalu Kau adalah yang pertama membuatku jatuh Dalam dekapan yang amat erat Sewaktu itu. Dan kau adalah yang pertama membuatku gemetar Dalam dinginnya malam Sekujur tubuhku kaku. Bekasi, 26 April 2015 R.H.S

Penantian

Penantian Menunggu namamu yang mungil segera menjemputku. Ketika sebuah akibat muncul dikarenakan kau ada dan kemudian tiada. Hari esok dengan gamblangnya menganugerahkanku pada sepenggal lantunan yang kau bawa mati.  Dahulu. Masih kukecup datar kulitmu yang langsat. Kencang. Membuatku tergoda. Pagi. Dengan izin semesta, aku akan selalu menunggumu. R.H.S

Kedua Tangan

Tanganku menelungkup di dada yang selalu saja mengiba untuk diperhatikan, sampai akhirnya aku dan kamu saling menghapus jarak dari pertemuan singkat itu, yang mendorong huruf terpisah dari kata, meninggalkan jejak diantara larik dan bait. Aku pun menerima sebuah kotak suci dari perbendaharaan kata Ilahi, ditulis singkat dengan tema buatanmu sendiri. Kurasa kertas dengan motif batik, sangat cocok untukku. Begitupun dengan kotak suci lipatanmu. : kuberikan dua telapak tangan yang terus melambai ke arahmu R.H.S