Langsung ke konten utama

Senyuman Merah Muda

Senyuman Merah Muda

Entah ilusi atau fatamorgana
dari hadap ku melihat
Parasmu dengan berjuta bunga yang merekah
Begitu banyak daun yang tak pernah melepas keluh wajahmu

Sederhana saja jika aku mulai menggerutu
Karena gaduh yang bukan kepalang mengerumuni fikiranku
Mengencangkan syaraf-syaraf nirwana
yang kelak membuatku teramat gundah

Guratan senyum yang kau goreskan di semerbak melati
Tidak pernah hilang
juga terang matamu
Selalu kusangsikan sebagai keniscayaan

Ada waktu dimana kawah pipimu dapat terekam
Ada waktu dimana perantauan jiwa akan selalu berlabuh

Kini kau menyentuh pekerjaan pena
yang kau hiasi dengan tertawa atau tertegun
Sebab kutahu ini hal yang membuatmu memangku tangan

Wanita dengan hijab merah mudamu
Angkatlah asa cerlah di samping bunga-bunga yang kusebutkan tadi
dengan harummu yang mengepul
Mampu membentuk awan
Bahkan bintang di dalam qalbu

Petuah akan selau mangkir
Jika tak kau jalankan
Laksana perahu kertas
yang terombang ambing
di kerumunan danau teratai

Oh iya.
Juga untukmu lembayung nyiur
Kerap menggoyang nadi-nadi pembatas
Kau jadikan tekadmu
Setinggi Brahmana
Sekuat Syiwa
Tegar batu karang di lautan

Kemudian, tersenyumlah jika menurutmu itu indah


R.H.S

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memoar ke-3

: pasti berlalu Kau adalah yang pertama membuatku jatuh Dalam dekapan yang amat erat Sewaktu itu. Dan kau adalah yang pertama membuatku gemetar Dalam dinginnya malam Sekujur tubuhku kaku. Bekasi, 26 April 2015 R.H.S

Penantian

Penantian Menunggu namamu yang mungil segera menjemputku. Ketika sebuah akibat muncul dikarenakan kau ada dan kemudian tiada. Hari esok dengan gamblangnya menganugerahkanku pada sepenggal lantunan yang kau bawa mati.  Dahulu. Masih kukecup datar kulitmu yang langsat. Kencang. Membuatku tergoda. Pagi. Dengan izin semesta, aku akan selalu menunggumu. R.H.S

Kedua Tangan

Tanganku menelungkup di dada yang selalu saja mengiba untuk diperhatikan, sampai akhirnya aku dan kamu saling menghapus jarak dari pertemuan singkat itu, yang mendorong huruf terpisah dari kata, meninggalkan jejak diantara larik dan bait. Aku pun menerima sebuah kotak suci dari perbendaharaan kata Ilahi, ditulis singkat dengan tema buatanmu sendiri. Kurasa kertas dengan motif batik, sangat cocok untukku. Begitupun dengan kotak suci lipatanmu. : kuberikan dua telapak tangan yang terus melambai ke arahmu R.H.S