Langsung ke konten utama

Senyuman Merah Muda

Senyuman Merah Muda

Entah ilusi atau fatamorgana
dari hadap ku melihat
Parasmu dengan berjuta bunga yang merekah
Begitu banyak daun yang tak pernah melepas keluh wajahmu

Sederhana saja jika aku mulai menggerutu
Karena gaduh yang bukan kepalang mengerumuni fikiranku
Mengencangkan syaraf-syaraf nirwana
yang kelak membuatku teramat gundah

Guratan senyum yang kau goreskan di semerbak melati
Tidak pernah hilang
juga terang matamu
Selalu kusangsikan sebagai keniscayaan

Ada waktu dimana kawah pipimu dapat terekam
Ada waktu dimana perantauan jiwa akan selalu berlabuh

Kini kau menyentuh pekerjaan pena
yang kau hiasi dengan tertawa atau tertegun
Sebab kutahu ini hal yang membuatmu memangku tangan

Wanita dengan hijab merah mudamu
Angkatlah asa cerlah di samping bunga-bunga yang kusebutkan tadi
dengan harummu yang mengepul
Mampu membentuk awan
Bahkan bintang di dalam qalbu

Petuah akan selau mangkir
Jika tak kau jalankan
Laksana perahu kertas
yang terombang ambing
di kerumunan danau teratai

Oh iya.
Juga untukmu lembayung nyiur
Kerap menggoyang nadi-nadi pembatas
Kau jadikan tekadmu
Setinggi Brahmana
Sekuat Syiwa
Tegar batu karang di lautan

Kemudian, tersenyumlah jika menurutmu itu indah


R.H.S

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Ruangguru: Belajar Matematika Lebih Seru dengan Ruangbelajar

Suatu sore di dekat taman. Aku bertemu dengan beberapa anak kecil yang sedang bermain sepeda dan sepatu roda. Mereka tampak bahagia dan juga sumringah. Apalagi taman di dekat rumahku ini sangat rindang. Anak-anak pun sangat betah dan berlama-lama bermain disana. Tak selang beberapa lama, teman-temanku datang. Mereka menggunakan perlengkapan lari yang cukup lengkap. Mulai dari kaus, celana hingga sepatunya. Memang ini kali pertama kita lari bareng. Namun, kemunkgkinan ke depannya akan menjadi rutinitas kita setiap pekan memang melaksanakan lari. Kenapa sore? Karena jikalau pagi masih ada teman yang ke kantor atau mengajar di sekolah. Jadi kita putuskan sore. Dan biasanya di hari sabtu. Sebab, hari minggu harinya bersama keluarga. (Menurutku saja sihh,. Hehe) Di antara teman-temanku, aku sering mengobrol bersama Clara. Sebab, kita sama-sama anak pertama. Anak pertama pasti memiliki beban tanggungan yang hampir mirip. Biasanya anak pertama juga menjadi panutan untuk adik-a...

Memoar ke-2

Ku berkendara dalam hujan Pada namamu banyak orang sering perbincangkan tak sedikit yang terpukau Kau yang setiap orang melihat matamu Terdapat perasaan untuk ingin tahu Pada parasmu yang selalu mereka fikirkan Menjelma manusia yang begitu sempurna Dan aku bertanya pada setiap potongan tubuhku Manakah yang menjadi bagian dari tubuhmu? Yang mengoperasikan setiap geraknya pada sebuah engkau Karena aku teramat buruk dalam menerka Ku mulai menghentikan kendaraanku Sebab kaki yang tak bisa lagi berpijak Pada tuas pengendalinya Telah lesu Ketika matari menyongsong di atas kepalaku Melihat sebuah cintaku yang berjalan Berangsur pergi Mengikuti arah sinar terik itu Kau yang mencintai pusat cahayamu Dan aku yang mencintai bayanganmu Dalam keadaan yang begitu jelas Aku mencintaimu. Bekasi, 25 April 2015 R.H.S

Review Ruangbelajar: Bimbel Online yang Menyediakan Materi Geografi Menarik

Awalnya di jurusan IPS, mata pelajaran yang paling aku tidak sukai adalah Geografi. Pelajaran yang membuat kepalaku mumet. Karena aku kurang menyukai beberapa materi seputar kondisi geografis, unsur tanah, wilayah dan lain-lain. Terlalu banyak hafalan yang membuat aku menjadi tidak tertarik dan enggan mempelajarinya. Hingga suatu ketika aku terbantu dengan pelajaran tersebut. Utamanya dalam hal menghafal wilayah suatu daerah sampai kondisi geografisnya. Aku jadi mengetahui fungsi peta dan bagaimana membedakan satu wilayah dengan wilayah lainnya. Aku yang bekerja di dunia penulisan, akhirnya juga memahami betapa pentingnya mempelajari geografi dan serius dengan tekun membuka kembali lembar pelajaran yang dahulu pernah aku sia-siakan. Namun, kenyataannya aku menemukan adik yang paling aku cintai pun kurang memahami dan tertarik dengan mata pelajaran ini. Ia telah duduk di bangku SMP kelas 9. Aku menjadi cemas ketika adikku juga kurang memahami mata pelajaran tersebut. ...