Langsung ke konten utama

PUISI IV

PUISI IV


: pada malam dijadikannya aku seorang pangeran

Kabar yang semalam mengajakku,
Saat kita melarung kehiruk-pikukkan malam.
Kau begitu mengesankan,
Sebab aku selalu saja tersenyum memandang wajahmu.

Aku ingat saat kaki kita merangkul.
Mencari tempat persembunyian.
Karena pada malam itu,
Langit tak lagi kuat menahan rasa sedihnya.
Seketika itu kubawa kau ke tempat teduh.
Meski kita telah kuyup dengan sendirinya.

Tak habis beberapa igauan,
Kita mulai disesalkan oleh roda-roda manusia,
Yang terkesan tak mau ambil pusing.
Kita diusir.

Langkah kita bukanlah pedati-pedati usang,
Kuajak kau meneruskan jejak cerita.
Agar sembilu-sembilu cinta akan selalu terpatri dalam hati.
Antara aku dan dirimu.

: pada perjalanan yang setelah ini
Suara kita dihentikan oleh isakan tangis yang semakin menjadi-jadi dari langit.
Mengurunglah niat kita untuk mendekat istana janji.

Sekuyup tubuh dan pikiranku,
ku  putuskan untuk mengambil jalan lain.
Agar tak lagi basah menyambangi tubuh .
Aku menggigil.
Begitupun engkau.
Kau dekap jari-jemariku dengan nada cinta.
Betapa bahagianya aku.

Aku adalah kertas usang,
Yang sudah lama tak pernah ditulis oleh sebuah anugerah.
Sampai semalam tadi kau merobek kertas usang ini,
Menjadikannya kertas yang berharga.
Terselip doa dan ucapan.
Cinta.



R.H.S

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Ruangguru: Belajar Matematika Lebih Seru dengan Ruangbelajar

Suatu sore di dekat taman. Aku bertemu dengan beberapa anak kecil yang sedang bermain sepeda dan sepatu roda. Mereka tampak bahagia dan juga sumringah. Apalagi taman di dekat rumahku ini sangat rindang. Anak-anak pun sangat betah dan berlama-lama bermain disana. Tak selang beberapa lama, teman-temanku datang. Mereka menggunakan perlengkapan lari yang cukup lengkap. Mulai dari kaus, celana hingga sepatunya. Memang ini kali pertama kita lari bareng. Namun, kemunkgkinan ke depannya akan menjadi rutinitas kita setiap pekan memang melaksanakan lari. Kenapa sore? Karena jikalau pagi masih ada teman yang ke kantor atau mengajar di sekolah. Jadi kita putuskan sore. Dan biasanya di hari sabtu. Sebab, hari minggu harinya bersama keluarga. (Menurutku saja sihh,. Hehe) Di antara teman-temanku, aku sering mengobrol bersama Clara. Sebab, kita sama-sama anak pertama. Anak pertama pasti memiliki beban tanggungan yang hampir mirip. Biasanya anak pertama juga menjadi panutan untuk adik-a...

Memoar ke-2

Ku berkendara dalam hujan Pada namamu banyak orang sering perbincangkan tak sedikit yang terpukau Kau yang setiap orang melihat matamu Terdapat perasaan untuk ingin tahu Pada parasmu yang selalu mereka fikirkan Menjelma manusia yang begitu sempurna Dan aku bertanya pada setiap potongan tubuhku Manakah yang menjadi bagian dari tubuhmu? Yang mengoperasikan setiap geraknya pada sebuah engkau Karena aku teramat buruk dalam menerka Ku mulai menghentikan kendaraanku Sebab kaki yang tak bisa lagi berpijak Pada tuas pengendalinya Telah lesu Ketika matari menyongsong di atas kepalaku Melihat sebuah cintaku yang berjalan Berangsur pergi Mengikuti arah sinar terik itu Kau yang mencintai pusat cahayamu Dan aku yang mencintai bayanganmu Dalam keadaan yang begitu jelas Aku mencintaimu. Bekasi, 25 April 2015 R.H.S

Review Ruangbelajar: Bimbel Online yang Menyediakan Materi Geografi Menarik

Awalnya di jurusan IPS, mata pelajaran yang paling aku tidak sukai adalah Geografi. Pelajaran yang membuat kepalaku mumet. Karena aku kurang menyukai beberapa materi seputar kondisi geografis, unsur tanah, wilayah dan lain-lain. Terlalu banyak hafalan yang membuat aku menjadi tidak tertarik dan enggan mempelajarinya. Hingga suatu ketika aku terbantu dengan pelajaran tersebut. Utamanya dalam hal menghafal wilayah suatu daerah sampai kondisi geografisnya. Aku jadi mengetahui fungsi peta dan bagaimana membedakan satu wilayah dengan wilayah lainnya. Aku yang bekerja di dunia penulisan, akhirnya juga memahami betapa pentingnya mempelajari geografi dan serius dengan tekun membuka kembali lembar pelajaran yang dahulu pernah aku sia-siakan. Namun, kenyataannya aku menemukan adik yang paling aku cintai pun kurang memahami dan tertarik dengan mata pelajaran ini. Ia telah duduk di bangku SMP kelas 9. Aku menjadi cemas ketika adikku juga kurang memahami mata pelajaran tersebut. ...