Langsung ke konten utama

Sajak Orang yang Mau Mati

Sajak Orang yang Mau Mati

Jika wajah bumi bisa pucat pasi, maka tiada yang tak mungkin dengan wajahku. Wajah manusia biasa yang bisa-bisanya mengaku manusia. Tetapi, tidak berlaku manusiawi bahkan terhadap hewan dan sejenis kuskus yang lari di pelataran rumah. Hal ini mungkin akan menjadi momok yang menakutkan untukku. Bisa juga untukmu. Untuk kalian.

Aku tahu aku pasti mati. Begitupun nasibmu dan nasib kalian. Namun, bukan mati yang aku takutkan. Aku takut ada aku kecil yang siap menjadi aku yang kotor dan penuh bau kotoran ini. Aku takut aku kecil mengajarkan bakal-bakal aku yang lain agar menjadi aku yang sekarang. Aku tidak ingin aku-aku yang lain menjadi aku yang rusak.

Mungkin aku yang sekarang telah mati.Tetapi, hati-hati pada aku-aku yang lain. Yang bahkan akan jauh berbeda dengan sekarang. Jauh lebih kotor dan bau. 


Ini semua karena proses yang berlangsung lama. Membentuk sedimentasi yang tak mempan oleh terjangan dan hujatan angin. Juga air. Atau api.


Aku yang dahulu telah mati,sebab aku tumbuh menjadi tunas yang baru. Aku tak akan sama dengan aku-aku yang dahulu. Sebab proses mengajarkanku pada kekosongan. Kenistaan.


Aku yang dahulu telah mati, semoga kau rekam diingatanmu dengan baik. Aku tak mau janji. Karena janji adalah manipulasi orang yang membutuhkan keyakinan. Karena ketidakyakinannya. Maksudku, tanpa berjanji pun, kau bisa melakukan perbuatan yang jauh lebih baik. Pada saatnya.Pada saatnya.Tanpa perlu janji-janji yang menyukai kepalsuan itu.


: aku atau kau yang mati



R.H.S

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Ruangguru: Belajar Matematika Lebih Seru dengan Ruangbelajar

Suatu sore di dekat taman. Aku bertemu dengan beberapa anak kecil yang sedang bermain sepeda dan sepatu roda. Mereka tampak bahagia dan juga sumringah. Apalagi taman di dekat rumahku ini sangat rindang. Anak-anak pun sangat betah dan berlama-lama bermain disana. Tak selang beberapa lama, teman-temanku datang. Mereka menggunakan perlengkapan lari yang cukup lengkap. Mulai dari kaus, celana hingga sepatunya. Memang ini kali pertama kita lari bareng. Namun, kemunkgkinan ke depannya akan menjadi rutinitas kita setiap pekan memang melaksanakan lari. Kenapa sore? Karena jikalau pagi masih ada teman yang ke kantor atau mengajar di sekolah. Jadi kita putuskan sore. Dan biasanya di hari sabtu. Sebab, hari minggu harinya bersama keluarga. (Menurutku saja sihh,. Hehe) Di antara teman-temanku, aku sering mengobrol bersama Clara. Sebab, kita sama-sama anak pertama. Anak pertama pasti memiliki beban tanggungan yang hampir mirip. Biasanya anak pertama juga menjadi panutan untuk adik-a...

Memoar ke-2

Ku berkendara dalam hujan Pada namamu banyak orang sering perbincangkan tak sedikit yang terpukau Kau yang setiap orang melihat matamu Terdapat perasaan untuk ingin tahu Pada parasmu yang selalu mereka fikirkan Menjelma manusia yang begitu sempurna Dan aku bertanya pada setiap potongan tubuhku Manakah yang menjadi bagian dari tubuhmu? Yang mengoperasikan setiap geraknya pada sebuah engkau Karena aku teramat buruk dalam menerka Ku mulai menghentikan kendaraanku Sebab kaki yang tak bisa lagi berpijak Pada tuas pengendalinya Telah lesu Ketika matari menyongsong di atas kepalaku Melihat sebuah cintaku yang berjalan Berangsur pergi Mengikuti arah sinar terik itu Kau yang mencintai pusat cahayamu Dan aku yang mencintai bayanganmu Dalam keadaan yang begitu jelas Aku mencintaimu. Bekasi, 25 April 2015 R.H.S

Review Ruangbelajar: Bimbel Online yang Menyediakan Materi Geografi Menarik

Awalnya di jurusan IPS, mata pelajaran yang paling aku tidak sukai adalah Geografi. Pelajaran yang membuat kepalaku mumet. Karena aku kurang menyukai beberapa materi seputar kondisi geografis, unsur tanah, wilayah dan lain-lain. Terlalu banyak hafalan yang membuat aku menjadi tidak tertarik dan enggan mempelajarinya. Hingga suatu ketika aku terbantu dengan pelajaran tersebut. Utamanya dalam hal menghafal wilayah suatu daerah sampai kondisi geografisnya. Aku jadi mengetahui fungsi peta dan bagaimana membedakan satu wilayah dengan wilayah lainnya. Aku yang bekerja di dunia penulisan, akhirnya juga memahami betapa pentingnya mempelajari geografi dan serius dengan tekun membuka kembali lembar pelajaran yang dahulu pernah aku sia-siakan. Namun, kenyataannya aku menemukan adik yang paling aku cintai pun kurang memahami dan tertarik dengan mata pelajaran ini. Ia telah duduk di bangku SMP kelas 9. Aku menjadi cemas ketika adikku juga kurang memahami mata pelajaran tersebut. ...