Langsung ke konten utama

Laut Masih Memberikan Aku Kesempatan untuk Mengejarmu

Aku telah mencacah banyak waktu denganmu
Hingga tak banyak yang tersisa untuk bibir ini bisa terucap
Tiap detik hanya cerca yang kudapat
Menit demi menit serasa tak berkesudahan.
Baiknya aku menahanmu terlebih dahulu
Dari deru gelombang yang tak kuketahui kapan datangnya
Bagaimana dan apa
Semakin tenang aku, makin ku tak mengetahui maksud dari gelombang lautan
yang aku ketahui hanya kau bergerak ke arah berbeda
Dengan kapalmu itu
Aku layaknya sebuah sekoci atau perahu kayu yang dilepas di tengah laut
Dan dengan mudahnya kau memalingkan wajahmu Meninggalkanku tanpa pamit
Padahal perahuku tak memiliki dayung dan layar seperti perahumu
Di dalamnya hanya berisi makanan kaleng dan beberapa kayu yang sudah lapuk
Lalu bagaimana aku mengejarmu?
Gelombang tinggi bisa saja membalikanku waktu itu
menenggelamkan atau bahkan menewaskanku
Namun, ternyata saat ini laut tak ingin mengamuk kepadaku
Bukan karena aku tak mengecewakannya. Aku rasa bukan itu.
Laut masih memberikan aku kesempatan untuk mengejarmu
Kesempatan amat jarang diberikan
Dan benar arus ini jelas mengarah kepadamu
Meski kau sudah tak terlihat lagi
Aku masih bisa mencium aroma tubuhmu dari kejauhan
Semoga itu benar-benar aromamu.

Jakarta, 4 Januari 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memoar ke-3

: pasti berlalu Kau adalah yang pertama membuatku jatuh Dalam dekapan yang amat erat Sewaktu itu. Dan kau adalah yang pertama membuatku gemetar Dalam dinginnya malam Sekujur tubuhku kaku. Bekasi, 26 April 2015 R.H.S

Penantian

Penantian Menunggu namamu yang mungil segera menjemputku. Ketika sebuah akibat muncul dikarenakan kau ada dan kemudian tiada. Hari esok dengan gamblangnya menganugerahkanku pada sepenggal lantunan yang kau bawa mati.  Dahulu. Masih kukecup datar kulitmu yang langsat. Kencang. Membuatku tergoda. Pagi. Dengan izin semesta, aku akan selalu menunggumu. R.H.S

Kedua Tangan

Tanganku menelungkup di dada yang selalu saja mengiba untuk diperhatikan, sampai akhirnya aku dan kamu saling menghapus jarak dari pertemuan singkat itu, yang mendorong huruf terpisah dari kata, meninggalkan jejak diantara larik dan bait. Aku pun menerima sebuah kotak suci dari perbendaharaan kata Ilahi, ditulis singkat dengan tema buatanmu sendiri. Kurasa kertas dengan motif batik, sangat cocok untukku. Begitupun dengan kotak suci lipatanmu. : kuberikan dua telapak tangan yang terus melambai ke arahmu R.H.S