Langsung ke konten utama

Postingan

Apa Ini Momen Terindah?

Apakah bertemu denganmu disebut sebuah momen termanis kita? Apabila tertawamu saja sudah direncanakan Pertukaran cerita selama seminggu lalu pun hanya transaksional Pulang ke rumah masing-masing seperti robot tak berperasaan dengan lupa yang semakin kronis Lalu, bagaimana bisa hal itu disebut momen terindah kita? Apabila saat turun kendaraan kamu memasang wajah lugu dan langsung berjalan terburu-buru Seakan ada yang sedang menunggu Melebihi pertemuanmu denganku Pengorbanan dan perjuangan itu hal yang mudah dikatakan, sulit dilakukan.  Mudah dinilai, minim penghargaan. Jakarta, 28 Desember 2018

Kupikir Kau akan Tetap Sehat

  Sebaik-baiknya aku adalah yang mendoakanmu  Seburuk bagaimanapun perlakuanmu padaku Sebenci apapun dirimu terhadapku Aku selalu menggunakan kedua tanganku  dengan mendoakanmu Di pagi menjelang siang Pada sore menjelang malam Waktu itu di persimpangan jalan Tempat lampu-lampu gemerlap dan suara bising kendaraan Meski tak menemukanmu, Aku menemukan harapan dari banyaknya jalan  yang kulewati dan kupilih sendiri Kupikir kau akan tetap sehat.  Walau tak melulu aku di sisimu.  Meski kabar hanya datang saat harapan sudah hilang. Jakarta, 31 Desember 2018

Kau yang Membantu Mendorongnya

Tak bisakah kau mengingat apa yang terjadi pada vespa-ku waktu itu Tentang ucapan-ucapan manis yang mendalam Kau membantu mendorongnya Sambil mengatakan aku akan menemanimu Aku pula yang akan mengantarmu sampai ke bengkel terdekat Tenang saja, sayang. Namun, tetiba kau berjalan dengan lambat dan semakin lambat Kau tak lagi sanggup menggapai jalan yang berat bersama vespa-ku Aku pun tak tega memberatkanmu agar terus mendorong kendaraanku ini Kendaraan yang mungkin banyak orang katakan telah usang Lalu, aku berjalan maju. Bukan untuk meninggalkanmu. Aku bergerak sesuai apa yang aku butuhkan.  Bukan tentang apa saja yang kau inginkan. Sejak awal aku tak pernah memintamu untuk mendorong vespa-ku. Tetapi, kau yang memaksa masuk ke dalam duniaku. Menikmati harumku, atau mungkin paksaan-paksaan yang melebihi kemampuanmu. Sejak itu aku mengkhawatirkan keadaanmu  Teramat khawatir. Sudah sampai mana kau mengingatnya? Jakarta, 5 Januari 2019

Laut Masih Memberikan Aku Kesempatan untuk Mengejarmu

Aku telah mencacah banyak waktu denganmu Hingga tak banyak yang tersisa untuk bibir ini bisa terucap Tiap detik hanya cerca yang kudapat Menit demi menit serasa tak berkesudahan. Baiknya aku menahanmu terlebih dahulu Dari deru gelombang yang tak kuketahui kapan datangnya Bagaimana dan apa Semakin tenang aku, makin ku tak mengetahui maksud dari gelombang lautan yang aku ketahui hanya kau bergerak ke arah berbeda Dengan kapalmu itu Aku layaknya sebuah sekoci atau perahu kayu yang dilepas di tengah laut Dan dengan mudahnya kau memalingkan wajahmu Meninggalkanku tanpa pamit Padahal perahuku tak memiliki dayung dan layar seperti perahumu Di dalamnya hanya berisi makanan kaleng dan beberapa kayu yang sudah lapuk Lalu bagaimana aku mengejarmu? Gelombang tinggi bisa saja membalikanku waktu itu menenggelamkan atau bahkan menewaskanku Namun, ternyata saat ini laut tak ingin mengamuk kepadaku Bukan karena aku tak mengecewakannya. Aku rasa bukan itu. Laut masih memberikan aku kesempatan untuk men...

Berkatmu Aku Mulai Bertanya

Berkatmu aku mulai bertanya  Tentang jalan mana lagi yang berkelok Dari sudut pandang yang bagaimana lagi  Aku bisa menyadarkanmu Seumpama pohon disana mulai rapuh Tak diberi nutrisi seperti pohon-pohon lainnya Lalu bagaimana dia bisa tumbuh seperti pohon lainya? Daun dari tubuhnya tak berhenti berguguran Dan bagaimana caranya agar daun-daun itu bisa bersemi kembali? Pohon-pohon disana sejajar dan membentuk barisan Merapikan shaf mereka satu persatu Lalu mengapa engkau ditinggalkan sendiri? Tak berdampingan dengan pohon lainnya Aku tak pernah menganggapmu sebuah aib Begitu pun aku yang berharap kau tak pernah menjauhiku Bogor, 23 Januari 2019 (Dengan hujan yang tak kunjung reda)

Review Ruangbelajar: Bimbel Online yang Menyediakan Materi Geografi Menarik

Awalnya di jurusan IPS, mata pelajaran yang paling aku tidak sukai adalah Geografi. Pelajaran yang membuat kepalaku mumet. Karena aku kurang menyukai beberapa materi seputar kondisi geografis, unsur tanah, wilayah dan lain-lain. Terlalu banyak hafalan yang membuat aku menjadi tidak tertarik dan enggan mempelajarinya. Hingga suatu ketika aku terbantu dengan pelajaran tersebut. Utamanya dalam hal menghafal wilayah suatu daerah sampai kondisi geografisnya. Aku jadi mengetahui fungsi peta dan bagaimana membedakan satu wilayah dengan wilayah lainnya. Aku yang bekerja di dunia penulisan, akhirnya juga memahami betapa pentingnya mempelajari geografi dan serius dengan tekun membuka kembali lembar pelajaran yang dahulu pernah aku sia-siakan. Namun, kenyataannya aku menemukan adik yang paling aku cintai pun kurang memahami dan tertarik dengan mata pelajaran ini. Ia telah duduk di bangku SMP kelas 9. Aku menjadi cemas ketika adikku juga kurang memahami mata pelajaran tersebut. ...

Review Ruangguru: Belajar Matematika Lebih Seru dengan Ruangbelajar

Suatu sore di dekat taman. Aku bertemu dengan beberapa anak kecil yang sedang bermain sepeda dan sepatu roda. Mereka tampak bahagia dan juga sumringah. Apalagi taman di dekat rumahku ini sangat rindang. Anak-anak pun sangat betah dan berlama-lama bermain disana. Tak selang beberapa lama, teman-temanku datang. Mereka menggunakan perlengkapan lari yang cukup lengkap. Mulai dari kaus, celana hingga sepatunya. Memang ini kali pertama kita lari bareng. Namun, kemunkgkinan ke depannya akan menjadi rutinitas kita setiap pekan memang melaksanakan lari. Kenapa sore? Karena jikalau pagi masih ada teman yang ke kantor atau mengajar di sekolah. Jadi kita putuskan sore. Dan biasanya di hari sabtu. Sebab, hari minggu harinya bersama keluarga. (Menurutku saja sihh,. Hehe) Di antara teman-temanku, aku sering mengobrol bersama Clara. Sebab, kita sama-sama anak pertama. Anak pertama pasti memiliki beban tanggungan yang hampir mirip. Biasanya anak pertama juga menjadi panutan untuk adik-a...